Info Reggae Indonesia: Mbah Surip

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Menengok Masa Lalu Mbah Surip


Tak gendong, kemana-mana. Tak gendong, kemana-mana. Enak to? Mantap to?

ITULAH sepenggal lirik berjudul Tak Gendong milik Mbah Surip yang kini akrab di telinga masyarakat. Tak hanya kalangan muda saja yang menyukai lagu ini. Syair lagu berirama reggae dengan syair lucu itu juga banyak dihafal kaum tua dan bahkan anak-anak.

Memang, syair lagu yang dibuat Mbah Surip ini tergolong easy listening. Selain tak terlalu panjang menulis syairnya, juga kata-kata khas lucu yang muncul dalam lagu itu. Apalagi dengan tawa khas "Ha...ha... ha..." yang disuarakan lantang tanpa beban oleh penyanyinya. Bisa dibilang, lagu Mbah Surip ini benar-benar lagu yang menghibur.

Lantas bagaimana latar belakang penyanyi dengan tampilan rambut gimbal ala Bob Marley itu. Seputar Indonesia mencoba melacaknya di kampung halaman Mbah Surip di Gang Buntu, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Di tempat itulah tercatat rekam jejak Mbah Surip jauh sebelum ia terkenal. Menjadi seorang yang memiliki keunikan dalam penampilan, sikap dan kepribadian.

Mbah Surip dilahirkan di sebuah rumah kecil dengan ukuran 3 X 12 meter. Di rumah sederhana di antara gang sempit itulah, pria yang memiliki nama asli Urip Akhmad Riyanto itu dilahirkan. Di rumah itu, tampak dua perempuan, Suharti dan Mbah Semi, saudara kandung Mbah Surip.

Suharti, adik kandung Mbah Surip lantas membeber latarbelakang kakaknya ketika masih remaja. Mulai menginjak SMP, Mbah Surip memang bergelut di dunia tarik suara. Juga hobinya yang tak pernah berhenti mencipta lagu dengan lirik unik dan lucu. "Setiap hari kerjaannya cangkrukan dan membuat lagu. Beberapa diantaranya sempat tenar di kota ini," tutur Suharti.

Karena dalam kondisi himpitan ekonomi kelurganya, Mbah Surip berupaya untuk bisa menyalurkan bakat membuat lagunya itu. Meski tak mampu membeli sebuah gitar, namun Mbah Surip tak kehilangan akal. Dibuatnya gitar sederhana yang kemana-mana dia bawa.

"Gitarnya kotak. Tapi dengan gitar itulah dia membuat lagu," kenangnya sembari menyebut jika gitar unik itu sempat hilang saat Mbah Surip tidur di salah satu masjid di kampungnya.

Sejak kecil, Mbah Surip memang memiliki kepribadian yang menyenangkan dan suka membuat orang tertawa. Sejak dulu, pria yang menuntaskan pendidikannya di Unijaya Mojokerto itu khas dengan tawanya yang lebar, seperti yang terdengar dalam syair lagu Tak Gendong. "Tak pernah susah. Hidup ini dijalaninya dengan senyum dan tertawa," tukasnya.

Selain rutinitas mencipta lagu, Mbah Surip juga memikirkan kebutuhan hidupnya. Pekerjaan apapun kata Suharti, pernah dijalani kakaknya itu. Mulai dari tukang las hingga menjadi makelar karcis biskop.

"Dia tak pernah malu meski kerja apa saja. Yang penting halal, seperti syair salah satu lagu yang ia ciptakan pada masa lengsernya Presiden Soeharto waktu itu," terangnya.

Dia juga menceritakan pada saat Mbah Surip berpamitan pergi merantau ke Jakarta sekitar tahun 1979 lampau. Setelah sukses, Mbah Surip juga masih kerap mengunjungi kampung halamannya itu.

Bahkan kata dia, setiap berkunjung ke Jatim, Mbah Surip selalu menyempatkan tidur di rumah milik orang tuanya yang kini tak berpenghuni itu. "Dia pernah telpon dan menjanjikan akan beli helikopter second tanpa kitiran. Ya begitu, selalu saja dengan nada guyon," ungkapnya menceritakan perbincangannya dengan Mbah Surip beberapa waktu lalu.

Satu hal yang membuat ia dan enam saudara kandung Mbah Surip lainnya kagum. Mbah Surip menjadi sosok yang mudah menolong. Bahkan saat inipun, ketenaran Mbah Surip tak menampakkan perubahan ekonominya. "Dia gampang memberikan sesuatu kepada orang lain. Meski itu berharga," tukasnya.

Kenangan indah juga diungkapkan Bambang Cahyono, pria yang pernah menjalani masa susah bersama Mbah Surip. Bambang pernah menjadi gitaran yang selalu tampil dengan Mbah Surip dalam setiap momen panggung.

"Tampilannya selalu lucu. Kadang-kadang saya malu sendiri," ungkap Bambang bernostalgia.

Namun, sosok Mbah Surip memang tinggi di matanya. Selain mudah bergaul, juga konsisten dengan bidang seni yang dijalani. "Beberapa waktu lalu dia pulang ke rumah ini. Dan sempat cangkrukan (nongkrong) di pangkalan becak di depan gang. Dia tetap seperti dulu," tukasnya bangga melihat teman seperjuangannya yang kini banyak dikenal saentaro nusantara itu.

Sumber : dari berbagai sumber
di edit oleh : Info ReggaeIndonesia

Mbah Surip Pernah Tantang Adu Panco Petinju Dunia


Jakarta Siapa sangka di balik tubuh kecil Mbah Surip terdapat nyali yang besar. Bahkan penyanyi berambut tersebut gimbal pernah menantang petinju kelas dunia. Hal itu Mbah Surip lakukan sewaktu muda.

Ellyas Pical, juara dunia tinju IBF tahun 1985 itulah yang pernah Mbah Surip tantang beradu panco. Saat itu Mbah Surip baru mendarat di Bulungan, Jakarta Selatan.

"Mbah pertama dateng ke Bulungan pakai sepeda ontel dan bawa gitar bolong buatannya sendiri. Dia juga jago panco, pernah nantang Ellyas Pical, juara tinju tahun 85-an," kenang Iwan, kerabat dekat Mbah Surip saat ditemui di Bengkel Teater WS Rendra, Citayam, Depok, Rabu (5/8/2009).

Namun itu urung dilakukan karena salah satu syaratnya harus mengalahkan anak buah Pical, Anto Baret. Mbah Surip nggak bisa mengalahkan Anto. Akhirnya, Mbah Surip pun tetap berada di Bulungan membentuk komunitas sendiri.

Menurut Iwan, Mbah Surip itu memang sosok orang tua yang berbeda. Diusia tuanya, Mbah masih suka bercanda dan berpenampilan nyentrik ala musisi reggae.

"Dia emang tipe orang yang susah ditebak, suka becanda. Selalu gitaran, dia juga pernah bercerita. Dulunya dia juga pernah menjadi pekerja kasar di pengeboran minyak di Amerika," lanjut Iwan.

Sumber : detik.com

Mengenang Mbah Surip di Wapres


Ngopi, merokok, dan nongkrong adalah tiga kebiasaan Mbah Surip semasa hidup. Salah satu lokasi tongkrongan pelantun lagu 'Tak Gendong' itu adalah Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan.

Di tempat ini, Mbah Surip sering kali menghabiskan waktu bersama teman-temannya sesama pengamen. "Sudah lama suka nongkrong di sini, kalau nongkrong bisa sampai tengah malam," kata Agung, seorang petugas parkir di wilayah itu, Selasa (4/8/2009).

Suasana 'Wapres' siang ini sungguh sepi. Warung itu memang baru buka menjelang malam.

Menurut Agung, sosok Mbah Surip sangat lucu dan selalu ceria. Mungkin karena itu pula, penyanyi yang kondang setelah salah satu lagunya menjadi ring back tone (RBT) laris manis dan menghasilkan miliaran rupiah memiliki banyak teman.

"Dia juga suka minum kopi, kuat banget ngopinya bahkan yang pahit," kata Pri, petugas parkir yang lain.

Selain nongkrong, Mbah Surip juga kerap didaulat untuk bernyanyi di Wapres. "Sesekali manggung, nyanyi lagu reggae," lanjut Pri.

Mbah Surip meninggal pukul 10.30 WIB dalam perjalanan menuju RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Saat tiba di rumah sakit, mulut Mbah Surip telah berbusa.
⬆
Top