Info Reggae Indonesia: Artikel

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Peran Jacob Miller Dalam Inner Circle

Tahun 1976, salah seorang penyanyi solo dan juga merupakan penghayat Rastafarianisme bergabung dengan Inner Circle. Band Reggae yang terlahir di akhir tahun 1960an. Jacob Miller, penghayat Rastafarianisme ini yang pada saat itu telah memiliki reputasi baik di kalangan musisi maupun organisasi, membawa Inner Circle kepada semakin kuatnya dan mempertegas identitas serta keberadaan band Reggae ini.
Pada saat itu Yayasan Jacob Miller telah memiliki kerjasama dengan Capital Record yang berada di Amerika Serikat dalam produksi rekaman, yang akhirnya menghantarkan mereka hingga dapat merilis dua buah album dengan tajuk Reggae Thing (1976) dan Ready for The World (1977).
Kemudian pada tahun 1978 Inner Circle tampil pada acara One Love Peace Concert di Jamaika, bersama Bob Marley and The Wailers, Peter Tosh dan lainnya. Namun setelah itu kejadian tragis pun akhirnya mewarnai perjalanan mereka.
Di tahun 1980 Jacob Miller mengalami kecelakaan dan tak ayal maut pun datang menjemputnya. Kejadian ini memberikan dampak yang cukup dalam dan Inner Circle mengalami duka yang cukup panjang, hampir 6 tahun lamanya mereka mengalami stagnasi dalam berkarya. [innercircle/a.h.khalidi]
Source

Marakas, Alat Ritual Kuno Yang Sekarang Menjadi Instrumen Musik

Marakas

Seruu.com - Marakas atau dalam bahasa asing disebut Maracas, Maracax'a, Maraca' Mbara'ka, di kategorikan sebagai alat musik perkusi. Pada masa lalu instrumen ini dimainkan secara tunggal, sebagai media penyembuhan dalam banyak prosesi ritual hampir di seluruh Afrika, Amerika Selatan dan Karibia. Marakas termasuk dalam jenis perkusi idiophones atau autophones dan juga merupakan salah satu bagian penting dari musik Cuba, Salsa, Rumba, Charanga dan Trova Ensemble. Jenis alat musik ini hampir dapat ditemukan di seluruh dunia. Dalam Big Band dan Orkestra biasanya menggunakan alat musik ini, itu dikarenakan pengaruh dari berbagai musik Latin.
Pada umumnya, material luar instrumen perkusi ini terbuat dari labu kering atau kulit kering yang dijahit. Juga bisa dibuat dari kayu, jerami, kelapa, plastik dan sejenis buah squash, yang diisi dengan biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan atau bahan yang dapat beresonansi dengan labu kering (kulit luarnya). Hali ini dilakukan agar menciptakan bunyi gemetar yang enak didengar dari benturan ataupun pergesekannya dengan jenis bahan yang digunakan di dalamnya. Sedangkan jumlah dari isi dalam tergantung pada estetika sang pembuat atau pemainnya. Pada setiap marakas melekat sebuah batang ataupun tongkat kayu silinder, sebagai alat bantu agar lebih mudah memegang dan memainkan instrumen tersebut.
Cara memainkannya seringkali dengan cara diguncangkan, hingga material di dalamnya membentur dinding bagian dalam dari material luarnya dan menghasilkan bunyi karakteristik yang khas atau suara yang tajam. Marakas biasanya diguncangkan seiring dengan irama dalam ketukan dan gerakan yang berbeda-beda yang membuat bisa kita berdansa, sebagian penari juga menggunakannya disaat mereka sedang menari.
Marakas memiliki berbagai ukuran dan bentuk, dari yang berbentuk telur kecil, apel besar dan berbentuk lonjong. Yang biasa digunakan dalam upacara tradisional di Venezuela (joropo) cenderung berukuran kecil, sedangkan yang biasa digunakan untuk mengiringi musik khas Amerika Selatan dengan nama lain bolero berukuran sedang. Dalam musik Latin Salsa cenderung berukuran sedang dan besar dan yang digunakan untuk prosesi karnaval terbuka cenderung berukuran besar.
Pada masa lalu, marakas juga digunakan sebagai bagian dari ritual Afro-Kuba, khususnya upacara penyembuhan (santeria). Marakas solo yang terbuat dari labu kering dengan material penutup dari bahan tenunan, juga digunakan oleh suku Araucanian di Chili oleh seorang dukun perempuan (mapuche) dalam upacara penyembuhan. Instrumen ini juga memainkan peranan penting dalam sebuah ritual agama suku Indian kuno pra-Columbus.
Walaupun banyak yang menganggap permainan marakas cenderung dipenuhi improvisasi, namun pemain marakas memiliki peran penting dalam keseimbangan ketukan. Jadi peran ini tidak boleh dianggap remeh. Untuk jenis marakas khas Venezuela (joropo) biasanya dimainkan dengan tempo 3/4 atau 6/8, atau yang biasa disebut dengan istilah virtuoso.
Pada awalnya dalam beberapa budaya yang ada diberbagai belahan dunia dikatakan bahwa bunyi dari alat musik ini meniru bunyi hujan atau ular derik. Terkadang bila satu saja dari marakas ini dimainkan, volume gemericiknya bisa lebih keras daripada alat musik lainnya yang sedang dimainkan pula.
Cukup banyak dari musisi perkusi Reggae dunia yang juga menggunakan alat musik Marakas sebagai bagian dari aransemen dari karya-karyanya, sebut saja Bob Marley and The Wailers, UB 40, Manu Chao, Big Mountain dan lainnya. Sedangkan pada musik Reggae Indonesia, ada beberapa band ataupun musisi Reggae Indonesia yang juga menggunakannya sebagai bagian dari aransemennya. Namun masih bisa dibilang bukan menjadi bagian penting ataupun alat musik yang dibutuhkan dalam berbagai aransemen musik Reggae Indonesia. [googlebook/a.h.khalidi]

Perkembangan Reggae Indonesia Menjadi Gerbang Pembuka Perubahan di Indonesia

seruu.com - Perkembangan musik Reggae Indonesia bisa dikatakan dalam kondisi di atas angin. Hampir tiga hingga empat even dapat terselenggara dalam setiap minggunya dan puluhan ribu pemuda pemudi di Indonesia ikut berpartisipasi dalam setiap evennya. Bisa dikatakan musik Reggae merupakan musik yang paling digandrungi oleh pemuda pemudi Indonesia di era ini dibandingkan genre musik lainnya.

Namun situasi serta kondisi seperti ini juga akan memaksa para penyelenggara musik, sponsor, komunitas serta musisi Reggae Indonesia untuk dapat menciptakan suasana yang aman dan nyaman dalam mewujudkan karya-karya terbaiknya dan bukan hanya sekedar atau berhenti pada titik memetik dan menikmati hasilnya saja. Akan tetapi tetap bertahan pada garis perjuangan Reggae itu sendiri dan  jangan sampai pihak-pihak tertentu memanfaatkan situasi ini ataupun melemahkan perjuangan Reggae tersebut.
Berbagai perjuangan tersebut-pun akan menemui fase di mana akan terjadi  feedback dari masyarakat secara umum terhadap perkembangan Reggae Indonesia tersebut. Para generasi muda Reggae Indonesia sudah seharusnya kritis dalam memilih dan memilah dalam mengamil keputusan, apa yang seharusnya mereka lakukan bila menemui situasi ataupun kondisi yang kritis seperti yang sedan terjadi pada bangsa ini saat ini.
Nafas Reggae yang sarat akan lirik-lirik yang berisi tentang perjuangan dan pembebasan kaum yang lemah dari penindasan para penguasa-pun sudah seharusnya menjadi darah daging rakyat Reggae Indonesia juga para musisi yang kini dianggap rakyat Reggae Indonesia telah populer.
Para musisi Reggae Indonesia yang menanam hingga tumbuh dan berkembang sejak era 1960an hingga 1980an dan tetap eksis hingga saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa merekalah yang telah membuka gerbang awal Reggae Indonesia di belantika musik Indonesia. Dengan tetap menjaga kualitas dari karya-karya mereka, menandakan bahwa kualitas musisi Reggae Indonesia sebagai pribadi dan karya mereka memang merupakan hal yang utama untuk diperhitungkan dalam perkembagan Reggae di ndonesia. Dan ini yang membuat Reggae Indonesia digandrungi oleh para pecintanya.
Begitu kayanya musik yang telah terlahir di Tanah Ibu Pertiwi ini, yang bisa menjadi sumber mata air dalam mengeksplorasi Reggae dapat membawa seni dan budaya dari wilaah Barat ke Tengah lalu ke Timur dari Indonesia menjadi bagian dari semakin eratnya pertalian pesaudaraan pemuda pemudi Indonesia.
Seperti berbagai musik yang dapat kita dengarkan, jutaan bahkan puluhan juta jenis musik dengan berbagai bahasa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air kita. Sebut saja musik Campur Sari, Keroncong, Gamelan bahkan musik dari Papua dan berbagai music daerah lainnya yang telah mewarnai Negeri kita sejak jaman dahulu dapat berkolaborasi dengan harmonis dengan musik Reggae. Dan semua ini merupakan proses dari penetapan jati diri dari Reggae Indonesia dan menjadi pembuka gebang perubahan terhadap perbaikan di negeri Indonesia tercinta ini! [a.h.khalidi] 
Source


Perlawanan Rastafaria Terhadap Penguasa, Berakhir Penggusuran Berdarah di Jamaika

seruu.com - Coral Garden merupakan tragedi berdarah yang berlangsung di Jamaika pada tahun 1963. Ini terjadi dikarenakan perkampungan masyarakat miskin kota di gusur paksa. Di mana sebagaian besar penduduk yang menetap di lokasi yang dekat dengan areal pariwisata Montego Bay tersebut adalah penghayat Rastafarianisme, yang merupakan gerakan aliran kepercayaan terkuat di Jamaika.
Menurut salah satu surat kabar lokal, pemimpin pergerakan ini Rudolph Franklin telah tertembak dan di penjara setahun sebelumnya setelah terjadinya sengketa tanah di Rose Hall.
Peristiwa tersebut menimbulkan serangan balik kelompok Rastafaria pada pom bensin setempat yang mengakibatkan kematian delapan warga sipil, dua orang polisi dan tiga orang Rastafaria. Hal ini dianggap pemerintah sebagai tragedi nasional, hingga terjadi penangkapan paksa terhadap 150 orang dan empat jemaat Rastafaria.
Awal dari terjadinya tragedi berdarah ini dikarenakan konflik yang semakin meruncing antara Partai Buruh Jamaika dengan Partai Rakyat Nasional yang dimulai sejak tahun 1961, atas kepentingan terhadap lahan produktif yaitu areal pariwisata Montego Bay yang ditempati oleh kaum Rastafaria sebagai tempat tinggal. Hingga akhir tahun 1963 konflik ini belum berakhir
Source


Ini Lirik Guerre Civile yang Fenomenal Tersebut

Seruu.com - Seperti yang dikutip oleh CNN, Gudlamu Ngefa, Deputi Direktur bidang HAM PBB saat berada di Pantai gading menyebutkan, sebanyak 220 orang tewas akibat serangan yang dilakukan Ouattara. Pemerintahan Ouattara selama ini telah mendapat dukungan PBB dan internasional untuk memegang kendali pemerintahan di Pantai Gading. Dan Ngefa juga menyebutkan, pasukan Gbagbo telah menewaskan sekitar 100 orang.
Rupanya, daya tarik ekonomi ini membuat negara berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa ini tidak pernah sepi dari konflik politik dan kekacauan, terutama sejak terjadinya kudeta militer yang berhasil menjatuhkan pemerintahan Pantai Gading pada 1999 pimpinan Henri Konan Bedie.
Alpha telah mencatat album dan single, yang berjudul  Yitzhak Rabin sebuah memori dari Perdana Meenteri Israel yang dibunuh pada tahun 1995. Dan di tahun 1998, Alpha Blondy featuring The Solar System menciptakan sebuah lagu dalam albumnya yang bertajuk Yitzak Rabin tersebut dan dianggap dapat mempengaruhi terciptanya kudeta tersebut.
Ini dia lirik lagu yang fenomenal itu!
Guerre Civile

Dans un pays avec plusieurs Ethnies, Quand une seule Ethnie, monopolise le pouvoir
Pendant plusieurs decennies et impose sa suprématie, Tôt ou tàrd, ce sera la Guerre Civile!

Le pouvoir absolu corrompt absolument, Le PrĂ©sident Ă©lu ne peut·ĂŞtre Ă©lu indĂ©finiment
Un jour ou l'autre le peuple voudra un changement, Et alors ce sera la Guerre Civile

Président élu une fois, élu deux fois
élu trois fois, élu quatre fois, ça devient de la dictature

S'imposer démocratiquement, ôte-toi de là que je m'y mette
Ma tribu n'est pas ta marionnette, et c'est parti, oui parti pour la guerre civile

Bombe tribale, bombe coloniale, Comment allons-nous faire pour la désamorcer...
Bombe tribale, bombe coloniale, Comment allons-nous faire pour la désamorcer?

La démocratie Banania, Finira par la guerre civile
La démocratie Banania, Finira par la guerre civilé

Bombe tribale, bombe coloniale, Comment allons-nous faire pour la désamorcer
Bombe tribale, bombe coloniale, Comment allons-nous faire pour la désamorcer

La démocratie Banania, Finira par la guerre civile
La démocratie bananière, Finira par la guerre civile

Les démocraties bananières, Pour les Républiques Bananières
La démocratie Bananière, Pour les Républiques Bananières
La démocratie Bananière, Pour les Républiques Bananières

Bombe tribale, bombe coloniale, Comment allons-nous faire pour la désamorcer?
Bombe tribale, bombe coloniale, Comment allons-nous faire pour la désamorcer?

La démocratie Banania, Finira par la guerre civile,

La démocratie bananière, Finira par la guerre civil
Source




Sejarah Singkat Awal Mula Istilah Reggae Berasal

Seruu.com - Kata Reggae, Rege, Reg-Ay atau Ragged  berasal dari pengucapan kata dengan logat Afrika bisa berarti kain lap, bertengkar berturut-turut dan lainnya. Hingga menjadi sebutan dari gaya berpakaian dari musisi atau pecinta musik Rocksteady dan hal ini ditulis oleh salah seorang penulis ternama, yaitu Derrick Morgan pada edisi “Dictionary of Jamaican English” tahun 1967.
Ada juga yang beranggapan kata ini berasal dari sebuah istilah Raggedy yang sebelumnya sering digunakan oleh anak-anak muda di kota Kingston, yang berarti gaya dansa yang lambat atau gerak kagok seperti hentakan badan pada orang yang sedang menari dengan iringan musik dan juga bisa memiliki arti pakaian compang-camping.
Selain itu menurut seorang sejarahwan Reggae Steve Barrow yang disampaikan oleh Toots Hebbert berpendapat ada istilah dalam logat jamaika (Jamaica Patois) Streggae yang berarti wanita pelacur atau wanita yang berpakaian sexy.
Sedangkan Bob Marley menyatakan bahwa kata reggae berasal dari istilah Spanyol untuk Raja Musik. Catatan baris dari To the King, dalam kumpulan gospel reggae Kristen, menunjukkan bahwa kata Reggae ini berasal dari bahasa Latin Regi yang berarti Untuk Raja.
Sedangkan kata Reggae sebagai istilah musik pertama kali muncul di media cetak pada sebuah lagu yang hits di Jamaika pada tahun 1968, yaitu lagu yang berjudul Do the Reggay karya dari Toots and The Maytals.
Band ini dianggap dapat memberikan nama untuk sebuah bunyi. Juga salah satu pelopornya Bunny Lee yang ditunjukkan dalam single lagu transisi Say What You’re Saying (1967) oleh Clancy Eccles, dan People Funny Boy (1968) oleh Lee Scratch Perry. The Pioneers Long Shot Bus’ Me Beat (1967) telah diidentifikasi sebagai contoh yang paling awal dan tercatat sebagai irama musik baru yang saat ini dikenal sebagai Reggae. “Ketukan dari musik ini telah berbeda, itu digunakan supaya organ dapat mengikutinya”. “Dan saya menyukainya” ujar Bunny Lee.
Source


Reggae Telah Mempengaruhi Perkembangan Fashion Dunia

Seruu.com - Pria Jepang itu mengenakan topi kain perca, tombol-up kemeja denim, celana baggy dengan kantong berwarna, dan sepatu bot saat diwawancara oleh Tokyo Fashion di Jepang. Dia membawa tas dari kain perca berwarna-warni di bahunya. Sedangkan sang gadis mengenakan tunik panjang berwarna-warni di atas rok yang sangat panjang.Uniknya Pria ini mengatakan dan mengaku kepada kami bahwa Bob Marley and The Wailers adalah salah satu band favoritnya dan ia merasakan getaran yang menginspirasinya dari fashion yang dikenakan oleh para musisi legendaris ini.
Hal ini dikuatkan dengan di tahun 1979, Bob Marley mendarat untuk pertama kalinya di Tanah Matahari Terbit. Dan sejak saat itu, Fashion Style Reggae di Jepang telah berevolusi melalui beberapa gaya dan sub-subkultur termasuk Harajuku.
Beralih ke Inggris, kota London adalah salah satu ibukota fashion di dunia. Dengan banyaknya desainer, model, dan orang yang bekerja di industri fashion. Dan budaya Karibia serta budaya masyarakat kulit hitam, serta gaya berpakaian musisi-musisi Reggae ditahun 1960-an harus diakui telah menginspirasi rumah mode utama Streaming, dengan tren mencakup seluruh dunia. Fashion dan budaya populer di London sangat dipengaruhi oleh gaya urban yang telah berkembang, salah satunya gaya berpakaian sehari-hari kaum buruh berkulit hitam di Inggris.
Namun pada kota seperti Buenos dan Harlem di Amerika, fashion Reggae yang berkembang lebih mengadopsi dari fashion yang juga berkembang di distrik Shibuya Tokyo, Club 24 di Yokohama dan Metro di Kyoto. Dikarenakan anda tidak akan melihat terlalu banyak rambut gimbal di sana.
Seorang pengamat fashion mengatakan, busana dancehall yang berkembang di perkotaan tetap didominasi oleh penggabungan seperti warna reggae merah, hijau dan emas pada butik-butik saat anda akan membeli pakaian. Pria memakai pakaian atletik, sedangkan sebagian besar perempuan bertujuan memilih yang ketat namun unrevealing. Sebagai bentuk dimana pengaruh reggae adalah berisi tentang garis konservatif dalam fashion.
Sedangkan di negeri tercinta kita ini, warna merah, kuning dan  hijau dapat dipadukan dalam berbagai benda seperti baju, tas, sendal, topi atau pun aksesoris lainnya. Ketiga warna tersebut telah mewarnai penampilan dan gaya hidup dikalangan berbagai usia saat ini di Indonesia. Baik yang tua, muda ataupun remaja juga anak-anak. Dan bahkan rambut gimbal sudah menjadi gaya hidup. Serta para remaja pecinta Reggae terjadi fenomena di mana di setiap even musik Reggae di Indonesia, hampir keseluruhan dari mereka menggunakan baju Barong. Yaitu sebuah tren khas dan telah lama diproduksi di Bali.
Source


Pengaruh Karya Alpha Blondy Terhadap Kudeta di Pantai Gading

Peran yang dimainkan oleh musisi Reggae yang populer disebut Alpha Blondy dalam kudeta  militer Desember 1999 di Pantai Gading memiliki alasan yang jelas. Di mana Pantai Gading adalah tanah kelahirannya dan ia dikenal sukses sebagai pencipta lagu dengan karya-karyanya yang berisi tentang kehidupan, sejarah, politik dan sebagainya, selama bertahun-tahun lamanya.
Juga komentar yang khas dan menggigit, dengan berbagai seruannya untuk peningkatan gaji para pegawai negeri sipil dan pekerja.
Menurutnya kekuasaan absolut adalah merusak, seorang Presiden yang terpilih tidak dapat dipilih tanpa batas. Karena suatu hari atau saat rakyat menginginkan perubahan, maka kemungkinan kemudian bisa saja terjadi perang saudara. Dan ketika rakyat sedang berjuang untuk bertahan hidup, pemerintah sedang mengadakan konferensi dengan sampanye dan kaviar.
Dalam salah satu lagunya yang berjudul La Guerre Civile, Blondy seakan memperkirakan perang saudara akan terjadi jika presiden terpilih mengabaikan panggilan rakyat untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik.
Walupun dalam kudeta ini tidak terjadi perang sipil, peristiwa ini mengejutkan dunia. Di mana Pantai Gading adalah salah satu negara Afrika yang telihat damai.
Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam gejolak suatu pemerintahan dapat terjadi disebabkan berbagai faktor. Hal-hal yang diperkirakan tidak diperhitungkan, terkadang menjadi faktor penentu yang utama.
 Source


Dreadlocks

Lepas dari perawatan rambut, secara alami rambut akan menyatu bersama membentuk knot dan kusut atau disebut dreadlocks. Dreadlock merupakan fenomena universal. Spiritualist dari semua kepercayaan dengan latar belakangnya memasukan kedalam jalur ajarannya dengan tidak memperdulikan penampilan fisik dari individu penganut kepercayaan tersebut. Para pendatang terkadang tidak menyisir dan memotong rambutnya atau bahkan sebaliknya dengan menutup rambutnya. Disinilah bagaimana dreadlocks lahir.
Orang Nazaret adalah masyarakat yang paling mengerti dalam mengembangkan dreadlocks. Di timur, Yogis, Gyanis dan Tapasvis dari semua sekte adalah pembawa dreadlocks yang terkenal.
Dreadlocks kemudian secara universal merupakan simbol spiritual dengan pengertian bahwa penampilan fisik tidak penting. Dreadlocks tidak hanya sekedar simbol pernyataan yang tidak memperdulikan penampilan fisik individu. Tradisi orang barat dan timur percaya bahwa energi jasmani, mental dan spiritual keluar melalui bagian atas tubuh kita, melalui kepala dan rambut; yang dapat menjaga seseorang menjadi lebih kuat dan sehat.
Contoh dari tradisi masyarakat barat adalah cerita kitab suci “Samson” yang tak terkalahkan, namun ketika Delilah memotong “7 locks” dari rambutnya, pada akhirnya Samson dapat terkalahkan. Pada cerita India klasik, para pelajar rohani spiritual yang dengan kepercayaannya pada kitab suci injil, mereka menjadikan dreadlocks sebagai pemecah kesombongan dari penampilan fisik antar mereka dan menolong mereka dalam perkembangan kekuatan jasmani, mental dan spiritual.
Ketika dunia masuk kedalam era industri, dreadlocks sudah dapat dilihat dimana-mana selain India . Pada abad ke 20, pergerakan sosial-agama bermulai di Harlem New York oleh Marcus Garvey, menemukan antusiasisme dreadlocks diantara populasi masyarakat negro di Jamaica . Group ini mengambil pengaruh dari 3 sumber utama, yaitu: Perjanjian Lama dan Baru dari Alkitab, Budaya Suku Afrika dan Budaya Hindu yang dapat menembus serangan budaya di Hindia barat.
Pengikut dreadlocks menyebut diri mereka “Dreads”, menandakan mereka mempunyai dread, takut dan respek kepada Tuhan. Dengan referensi yang berasal dari agama Hindu dan Kristen. Rambut “dread” yang tumbuh matted locks (kusut dan terbentuk knot) kemudian oleh masyarakat dunia disebut “Dreadlocks” – model rambut para dread.
Perkembangan selanjutnya, para dread lebih fokus kepada Kaisar Ethiopia Ras Tafari, Haile Selassie dan melalui dialah muncul penganut rastafari, “Rastafarians” . Di awal 1900-an, dreadlocks diambil alih oleh penganut rastafari sebagai tambahan terhadap fungsi asli agama dan arti pentingnya spiritual sebagai simbol potensi sosial yang baik. Saat ini dreadlocks merupakan hal yang sungguh-sungguh spiritual, natural dan supernatural power dan sebagai pernyataan anti kekerasan, keselarasan, kebersamaan dan dapat saling bersosialisasi serta solidaritas antar sesama tanpa menekan minoritas.
Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya , rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.
Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika , Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.
Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Selain itu ada kepercayaan bahwa rambut gimbal membantu meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental-spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut dilatari kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.
Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke-19, rambut gimbal mulai sulit diketemukan di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread iniah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).
Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan diantara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Dreadlocks juga mereka praktekkan sebagai pembeda dari para “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon —istilah untuk penguasa penindas. Pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston , seperti di kota Trench Town dan Greenwich, tempat dimana musik reggae lahir pada tahun 1968.
Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan, termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang permanen.

Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.
> dari berbagai sumber.

Peter Tosh

Biography :
Peter Tosh lahir Winston Hubert McIntosh pada tanggal 9 Oktober 1944 di Grange Hill, Jamaika. Dibesarkan oleh bibinya, ia meninggalkan rumah pada remaja awal dan menuju daerah kumuh Kingston, Jamaika, yang dikenal sebagai Trenchtown. Seperti banyak musisi sesama calon muda, ia menemukan jalan ke Joe Higgs, seorang musisi lokal yang menawarkan pelajaran musik gratis untuk pemuda. Melalui Joe Higgs bahwa Peter Tosh bertemu sesama bandmates masa depannya, Bob Marley dan Bunny Wailer.
Awal Sukses Dengan Wailers:
Di bawah bimbingan Joe Higgs, The Wailers Ratapan, sebagai tiga anak laki-laki dikenal, mulai tampil di depan umum dan akhirnya menuju ke studio. lagu pertama mereka, “Simmer Down” (mendengarkan / download) menjadi ska pulau-lebar hit.
Rasta dan Rocksteady:
Setelah membuat beberapa hits ska lagi, Wailers Ratapan dipasang kembali hanya sebagai “The Wailers,” dan mulai merekam musik dengan beat rocksteady lambat dan lirik yang terinspirasi oleh iman baru ditemukan Rastafarian mereka. Tak lama kemudian, trio mulai bekerja dengan produser Lee “Scratch” Perry, dan kolaborasi yang melihat kelahiran musik reggae.
Peter Tosh’s Mayor Kontribusi ke Wailers:
Meskipun nama Bob Marley kemudian menjadi identik dengan Wailers, Peter Tosh dan Bunny Wailer yang pasti sama dengan Marley di band. Sebagai penulis lagu, Tosh banyak menyumbang hits band, termasuk “400 Tahun,” “Get Up, Stand Up,” “Tidak Simpati,” dan “Berhenti Kereta Itu.” terampil bermain gitar Nya dan keterampilan vokal juga pusat suara band.
Peter Tosh’s Kepribadian:
Peter Tosh dikenal sebagai orang sinis dan sedikit marah. Berbeda dengan melihat idealis Bob Marley di dunia, dan tujuan untuk menyebarkan pesan cinta, Peter Tosh melihat dirinya sebagai seorang revolusioner, dan keras dalam usahanya untuk meruntuhkan “Babel.” Ia menciptakan kata sendiri untuk banyak hal yang ia benci, termasuk “politricks” untuk politik, “s ** tstem” untuk sistem, dan “Kejahatan Menteri” untuk Perdana Menteri. Ini adalah sikap yang membuatnya mendapatkan julukan “Steppin ‘Razor.”
Mengejar Karir Solo:
Peter Tosh mulai merekam catatan solo sementara masih tampil dengan Wailers sampai tahun 1974, ketika baru mencatat Wailers ‘label, Island Records, menolak untuk merilis album solo. Dia meninggalkan band untuk mengejar karir sendiri secara penuh-waktu, dan akhirnya merilis album solo pertamanya, Legalize It di tahun 1976. Dia melanjutkan untuk merilis beberapa lagu hit, meskipun sikap militan tidak pernah menemukan tingkat yang sama penerimaan sebagai pesan Bob Marley lebih mempersatukan lakukan.
The One Love Peace Konser:
Pada tahun 1977, setelah ketegangan antara berbagai kelompok-kelompok Jamaika dan anggota nakal militer Jamaika telah mencapai tingkat yang parah, Bob Marley memutuskan untuk menyelenggarakan konser yang disebut Konser Cinta Damai, dan mengundang banyak bintang Jamaika paling terkenal untuk bergabung masuk Tosh digunakan nya waktu panggung untuk menyanyikan lagu-lagu yang paling militan, dan berbicara dengan marah terhadap pemerintah. Sangat populer dengan orang banyak, kinerja ini tidak kurang dari hit dengan pejabat pemerintah yang hadir. Tosh Meskipun sudah menjadi target favorit bagi polisi, dari saat itu, ia menjadi korban kebrutalan teratur.
Peter Tosh’s Akhir Tahun:
Peter Tosh terus merekam lagu hit internasional untuk sisa tahun 1970 dan awal 1980-an, dan tidak pernah santai pesan intens revolusi. Setelah merilis konser pada tahun 1984, Peter Tosh mengambil cuti beberapa tahun, dan 1987 comeback catatan No Perang Nuklir dinominasikan untuk Grammy Award.
Sebuah kematiannya:
Pada tanggal 11 September 1987, seorang kenalan dari Peter Tosh, Dennis Lobban, memasuki rumah Tosh dengan sekelompok kecil teman-teman dan mencoba merampoknya. Mengklaim bahwa dia tidak punya uang kepadanya pada waktu itu, Tosh terhenti geng, yang tinggal di rumahnya selama beberapa jam sebagai teman berbagai menjatuhkan masuk Akhirnya, mereka kehilangan kesabaran dan menembak Tosh dan houseguests di kepala. Tosh tewas seketika, begitu juga kedua orang temannya, meskipun tiga orang lain entah bagaimana selamat. Lobban dijatuhi hukuman mati karena kejahatannya, meskipun hukumannya kemudian diringankan dan ia tetap di penjara di Jamaika sampai hari ini.
Sumber : wikipedia dan sumber lainnya
Sumber : wikipedia

Daddy G of Massive Attack

Jakarta Grant Marshall, yang biasa disebut Daddy G, bisa dibilang sebagai pencetus dari apa yang sekarang dikenal sebagai ‘Bristol Sound’. Jenis musik inilah yang menggabungkan antara dub, reggae, funk, disco dan hip hop yang dibawakan oleh Massive Attack, Smith and Mighty, Tricky dan Portishead – sebuah karya music yang telah meninggalkan jejaknya di seluruh dunia lebih dari satu setegah decade.

Daddy G merupakan otak dari semuanya karena ia merupakan pendiri dari the Wild Bunch Sound System sebelum Massive Attack terbentuk. Di tahun 1980-an, Marshall terjun ke dunia musik Birstol sebagai anggota dari grup tersebut, yang meliputi dua anggota Massive Attack lainnya, Robert del Naja dan Andrew Vowles. Enam tahun kemudian, grup tersebut dibubarkan, dan menggiring Marshall, Del Naja dan Vowles membentuk trip-hop grup bernama Massive Attack – yang bisa dikatakan sebagai grup pertama dalam kategori trip-hop.

Jauh sebelum menjadi bagian band ini, Daddy G dikenal sebagai seorang DJ. Saat berumur 10 tahun, dia sudah merekam mix-tape nya sendiri, terinspirasi oleh kekasih kakaknya yang juga merupakan seorang DJ. Daddy G merupakan salah satu DJ Bristol yang termuda pada tahun 80-an, dan telah ditetapkan sebagai sinonim untuk gaya music eclectic. Dimanapun Daddy G bermain, pengunjung akan selalu mendengar trend terbaru dari lagu disko, fresh punk funk dari New York, rap, serta soul dan dub reggae. Ketika Wild Bunch Sound System dibentuk, Daddy G sudah menjadi selebriti lokal. Permainan DJ yang dia lakukan tidak hanya menjadi legendaris karena ketrampilan mixing dan pemilihan lagunya, namun juga karena kreativitasnya di depan microphone.

Sumber : Detik.com

Dancehall


Dancehall adalah salah satu genre musik pop Jamaika. Sebagai versi reggae yang kurang kental, dancehall juga mengangkat topik-topik seperti politik dan agama, namun tidak begitu secara langsung seperti halnya irama roots yang diasosiasikan dengan Gerakan Rastafari dan telah mendominasi sebagian besar dekade 1970-an. Pada pertengahan 1980-an, alat musik makin menjadi lumrah hingga banyak mengubah warna musik reggae, sementara dancehall digital (atau disebut "ragga") makin ditandai oleh ciri khas berupa ritme yang lebih cepat. Pada pertengahan 1990-an sejalan dengan kepopuleran artis-artis dancehall BoboShanti seperti Sizzla dan Capleton berkembanglah hubungan yang sangat erat antara dancehall dan Rastafari.
Musik dancehall telah menjadi sasaran kritik oleh sejumlah tokoh dan organisasi internasional karena lirik lagu yang dipenuhi kekerasan dan kadang-kadang antihomoseksual. Meskipun demikian, tema-tema lirik sebetulnya telah lebih bervariasi dan tidak hanya terbatas pada slackness dan kekerasan.
Genre musik ini dijuluki dancehall karena berasal dari rekaman musik pop Jamaika yang dimainkan di aula-aula dansa (bahasa Inggris: dance hall) oleh grup musik lokal yang disebut sound system.
TEMPO Networks termasuk di antara stasiun televisi yang sering menyiarkan musik dancehall.

Sejarah
Perubahan sosial dan politik di Jamaika pada akhir 1970-an tercermin pada pergeseran selera yang makin menjauh dari roots reggae yang lebih berorientasi internasional ke arah gaya musik yang lebih ditujukan untuk konsumsi lokal, serta selaras dengan musik yang dialami orang Jamaika ketika mendengar grup sound system tampil dalam pertunjukan live. Pemerintah People's National Party (PNP) pimpinan Michael Manley yang sosialis telah digantikan oleh Edward Seaga dari Jamaica Labour Party (JLP) yang berhaluan sayap kanan. Tema-tema mengenai ketimpangan sosial, repatriasi, dan gerakan Rastafari digantikan dengan lirik mengenai tari, kekerasan, dan seksualitas.
Secara musikal, ritme-ritme usang dari akhir 1960-an didaur ulang dengan menyebut Sugar Minott sebagai perintis tren setelah Minott sewaktu bekerja sebagai musisi studio menyanyikan lirik baru untuk ritme-ritme lagu Studio One di waktu luang antara dua sesi rekaman. Sekitar waktu yang bersamaan, produser Don Mais sedang mengerjakan ritme-ritme lama di Channel One Studios dibantu oleh band Roots Radics. Roots Radics nantinya berkolaborasi dengan Henry "Junjo" Lawes untuk menciptakan rekaman-rekaman awal musik dancehall yang penting, termasuk lagu-lagu yang dibawakan bintang-bintang reggae utama seperti Barrington Levy, Frankie Paul, dan Junior Reid. Penyanyi lain yang muncul sebagai bintang besar pada masa-masa awal dancehall termasuk di antaranya Don Carlos, Al Campbell, dan Triston Palmer, penyanyi yang sudah mapan seperti Gregory Isaacs dan Bunny Wailer berhasil ikut beradaptasi.

Grup sound system seperti Killimanjaro, Black Scorpio, Gemini Disco, Virgo Hi-Fi, Volcano Hi-Power, dan Aces International segera mengikuti warna musik yang baru, dan menghadirkan gelombang baru para deejay. Artis toaster yang lebih tua digantikan oleh bintang-bintang baru seperti Captain Sinbad, Ranking Joe, Clint Eastwood, Lone Ranger, Josey Wales, Charlie Chaplin, General Echo, dan Yellowman. Perubahan tersebut tercermin dalam album A Whole New Generation of DJs yang diproduksi oleh Junjo Lawes pada tahun 1981. Meskipun demikian, sebagian artis mengikuti U-Roy untuk mencari inspirasi. Rekaman-rekaman yang dibuat para deejay untuk pertama kalinya dalam sejarah menjadi lebih penting daripada rekaman yang menampilkan para penyanyi. Tren baru lainnya adalah album-album yang menampilkan sound clash, yakni album berisi lagu-lagu dari rival deejay yang saling bersaing atau grup-grup sound system yang berlomba satu lawan satu untuk memenangi apresiasi para pendengar dalam suatu pertunjukan live. Kaset-kaset sound clash keluaran underground sering mendokumentasikan kekerasan yang timbul akibat persaingan tersebut.
Dua bintang deejay terbesar dari era awal dancehall adalah Yellowman dan Eek-a-Mouse, keduanya lebih memilih humor daripada kekerasan. Yellowman menjadi deejay Jamaika pertama yang dikontrak oleh sebuah label rekaman Amerika Serikat, dan untuk sementara waktu di Jamaika dapat menikmati tingkat popularitas yang dapat menyaingi masa kejayaan Bob Marley.Para deejay wanita juga mulai bermunculan pada awal dekade 1980-an, termasuk di antaranya: Sister Charmaine, Lady G, Lady Junie, Junie Ranks, Lady Saw, Sister Nancy, dan Shelly Thunder.
Dancehall menghadirkan generasi baru para produser seperti Junjo Lawes, Linval Thompson, Gussie Clarke, dan Jah Thomas yang mengambil alih peran para produser yang telah mendominasi di era tahun 1970-an.
Dunia musik reggae dancehall dikejutkan oleh lagu hit tahun 1985 dari King Jammy, "(Under Me) Sleng Teng" yang dibawakan oleh Wayne Smith dengan memakai ritme yang sepenuhnya digital. Lagu "(Under Me) Sleng Teng" dari Wayne Smith sering disebut sebagai lagu reggae pertama yang memakai ritme dari kibor Casio MT-40. Namun klaim tersebut tidak sepenuhnya tepat karena sebelumnya sudah ada contoh-contoh lagu dengan ritme digital, misalnya singel Horace Ferguson berjudul "Sensi Addict" (Ujama) yang diproduseri oleh Prince Jazzbo pada tahun 1984.[rujukan?] Ritme "Sleng Teng" nantinya dipakai oleh artis-artis lain untuk lebih dari 200 rekaman berikutnya. Lagu-lagu dancehall yang menonjolkan dendang sang deejay dengan pengiring berupa musik synthesizer telah beranjak jauh dari konsepsi hiburan musik pop Jamaika.
Penyair dub Mutabaruka pernah berkata, "Kalau reggae 1970-an [berwarna] merah, hijau, dan emas, maka pada dekade berikutnya adalah rantai emas." Dancehall sudah jauh tercabut dari akar dan budaya reggae yang lembut, dan bahkan sudah terjadi perdebatan di kalangan penggemar sejati mengenai tempat genre musik ini di dalam musik reggae.
Perubahan tersebut menghadirkan generasi baru para artis, di antaranya: Buccaneer, Capleton, dan Shabba Ranks yang kemudian terkenal sebagai bintang ragga. Sejumlah produser baru juga menjadi terkenal, misalnya: Philip "Fatis" Burrell, Dave "Rude Boy" Kelly, George Phang, Hugh "Redman" James, Donovan Germain, Bobby Digital, Wycliffe "Steely" Johnson and Cleveland "Clevie" Brown (alias Steely & Clevie). Mereka bangkit untuk menantang posisi Sly & Robbie. Para deejays makin memusatkan perhatian pada kekerasan dengan tokoh-tokoh utamanya seperti Bounty Killer, Mad Cobra, Ninjaman, dan Buju Banton.
Sebagai pelengkap suara deejay yang kasar berkembang pula gaya vokal "sweet sing" yang berkembang dari roots reggae dan R&B, serta ditandai oleh falsetto dan intonasi yang hampir feminin. Pinchers, Cocoa Tea, Sanchez, Admiral Tibet, Frankie Paul, Half Pint, Conroy Smith, Courtney Melody, Carl Meeks, dan Barrington Levy termasuk di antara para artis yang mencobanya.
Lagu-lagu yang dirilis pada awal 1990-an seperti "No, No, No" dari Dawn Penn, "Mr. Loverman" dari Shabba Ranks, "Worker Man" dari Patra, dan "Murder She Wrote" dari Chaka Demus and Pliers berhasil menjadi hit besar di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Variasi lain dari dancehall juga sukses di luar Jamaika dari pertengahan hingga akhir 1990-an. Tanya Stephens mencuat sebagai artis wanita berpengaruh pada akhir 1990-an dengan lagu hit "Yuh Nuh Ready Fi Dis Yet".
Pada awal dekade 2000-an, Elephant Man and Sean Paul berhasil mencapai sukses di Amerika Serikat, dan menghasilkan sejumlah lagu hit Top 10 Billboard, termasuk "Gimme the Light", "We Be Burnin'", "Give It Up To Me", dan "Break It Off" (duet bersama Rihanna). Sean Paul juga telah memiliki beberapa singel nomor satu, di antara: "Get Busy", "Temperature", dan "Baby Boy" (duet bersama Beyoncé).
VP Records mendominasi pasar musik dancehall dengan artis-artis seperti Sean Paul, Elephant Man, and Buju Banton. VP sering bekerja sama dengan label rekaman mayor seperti Atlantic dan Island dalam usahanya memperluas distribusi, terutama di pasar Amerika Serikat.

Ayah dari Legenda Bob Marley

Kapten Norval Sinclair Marley adalah seseorang yang berperawakan kecil. Ia adalah seorang pengawas tanah perusahaan Crown Lands, milik Pemerintahan Inggris yang telah menjajah Jamaika sejak tahun 1660-an yang terletak sebelah utara pulau itu. Pangkat yang disandangnya ia dapat saat menjadi komandan markas di Resimen British Hindia Barat. Suatu saat ia bertemu dengan Cendella, seorang wanita pribumi yang telah mamikat hatinya pada saat dia sedang berkunjung ke distrik Nine Miles. Hubungan mereka menjadi pergunjingan warga setempat karena Ras.


Pada Mei 1944 cedella mengejutkan keluarganya karena hamil. Sehingga pada hari jumat dilaksanakanlah pernikahan antara Norval dengan Cendella dan sehari setelah pernikahan mereka, Cendella diungsikan ke Kingston agar tidak tercorek namanya sebagai ahli waris keluarganya.

Dan akhirnya Cendella melahirkan seorang anak yang diberi nama Robert Nesta Marley yang lahir pada pukul 2.30, Rabu Februari 1945 dengan bobot enam setengan pon (3.25 kg) di Nine Miles. Konon pada malam kelahirannya, banyak orang melihat beberapa meteor jatuh, yang menurut keyakinannya akan lahir seorang tokoh besar.

Pada tahun 1950 Cendella pindah ke Trench Town – Kingston. Marley mulay berinteraksi dengan geng-geng jalanan yang kemudian berlanjut menjadi gerombolan bernama “The Rudeboys. Walaupun berperawakan kecil seperti ayahnya, tapi karena kekuatannya ia dijuluki “Tuff Gong”.

Setelah Marley drop out dari sekolahnya ia mulai tertarik dengan musik. Pada awal 1962 Bob Marley, Bunny Livingstone, Peter Mcintosh, Junior Braithwaite, Beverley Kelso dan Cherry Smith membentuk grup ska & rocksteady dengan nama “The Teenager” yang nantinya berubah menjadi The Wailing Rudeboys dan berganti lagi menjadi The Wailing Wailer dan akhirnya menjadi The Wailers.

Pada tahun 1977, Bob Marley divonis terkena kanker kulit, namun disembunyikan dari publik. Bob Marley kembali ke Jamaica tahun 1978, dan mengeluarkan SURVIVAL pada tahun 1979 diikuti oleh kesuksesan tur keliling Eropa.

Bob Marley melakukan 2 pertunjukan di Madison Square Garden dalam rangka merengkuh warga kulit hitam di Amerika Serikat. Namun pada tanggal 21 September 1980, Bob Marley pingsan saat jogging di NYC’s Central Park. Kankernya telah menyebar sampai otak, paru-paru dan lambung. Penyanyi reggae inipun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Miami Hospital pada 11 Mei 1981 di usia 36 tahun, dengan meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.

Terlihat jelas melalui sinar matahari jamaika kamu dapat memilih bagian dari dongeng tentang Marley antara lain : tentang kesedihan, cinta, pemahaman, dan Godgiven talent.

Dua dekade setelah dia meninggal, Imensitas (kebesaran) Bob Marley menempatkannya menjadi satu diantara figur-figur transenden terbesar sepanjang abad. Riak-riak yang dilakukannya menyebrang dari sungai musiknya kedalam samudera politik, etika, gaya filsfat, dan agama (Rastafaria). Bob Marley dimasukkan ke dalam Rock n Roll Hall of Fame pada tahun 1994. Majalah time memilih lagu Bob Marley & The Wailers Exodus sebagai album terbersar pada abad ke-20. pada tahun 2001 ia memenangkan Grammy Lifetime Achivement Award.

Pada tahun yang sama kemudian film documenter tentang hidupnya dibuat oleh Jeremy Marre, Rebel Music, dinominasikan untuk The Best Long Form Music Video documentary at the Grammies, serta penghargaan untuk beberapa kategori lainnya. Dengan kontribusi dari Rita, The Wailers, dan para pecintanya serta anaknya, film tersebut menceritakan tentang Marley, yang juga disertai kata-kata Marley sendiri. Pada musim panas tahun 2006, Kota New York memberikan penghargaan tersendiri bagi Bob Marley dengan memberi nama pada jalam gereja dari jalan Ramsen ke East 98th street dibagian timur Brookliyn dengan memberi nama “Marley Boulevard”. Dan masih banyak lagi penghargaan yang Bob Marley dapatkan.

Kisah hidup Bob Marley adalah sebuah arketipe, itulah kenapa karya-karyanya abadi dan terus bergema. Bob Marley berbicara tentang represi politik, wawasan metafisik dan artistic, kesejahteraan dan apa saja yang mengusiknya. “No Women No Cry” masih akan terus mengahapus air mata dari wajah seorang janda “Exodus” masih akan memunculkan ksatria, “Redemtion Song” masih akan menjadi tangisan emansipasi untuk melawan segala tirrani, “Waiting in Vaint” akan tetap menggairahkan, dan “One Love” akan terus menjadi himne internasional bagi kesatuan kemanusiaan didunia melampui batas-batas, melampui kepercayaan-kepercayaan, di mana tiap orang akan sadar dan mempelajarinya.

Bob Marley bukan hanya sekedar bintang musik yang sebagian besar rekamannya memecahkan rekor internasional, namun ia juga menjadi sebuah figure moral dan religius. Selain Bob Marley kita juga harus mengakui bahwa banyak musisi yang lebih unggul dari penemuan instrumental, gaya vocal gubahan musik, dan sebagainya.tetapi hanya Bob Marley yang dapat membuat kita melihat ribuan orang Hpi dari Mexico, Maori dari Selandia Baru bahkan komunitas-nya di Indonesia (Jogjakarta dan Bali), berkumpul tiap tahun untuk menghormatinya.

Banyak penggemarnya di seluruh dunia meniru gaya rambut dreadlocknya karena fanatic walaupun tidak sedikit pula yang meniru dreadlock Bob Marley karena terkena imbas voyeurisme, padahal sebenarnya dreadlock Bob Marley sebagai bagian dari keyakinannya akan ajran Rastafarian, dan bukan dari pengkulturan dari selebriti idolanya. Pada umumnya di Indonesia, sosok Bob Marley banyak diidentikkan dengan ganja, padahal ganja adalah ritual serta bagian dari ajaran Rastafarian dan Bob Marly adalah penganutnya. Wajar bila ia mengkonsumsi, menjadikan syair, dan menyanyikannya.

Vespa dan Reggae


Vespa, kendaraan roda dua yang berasal dari negara Benito Mussolini ini memang memiliki keunikan tersendiri dan memiliki sejarah yang panjang sampai akhirnya kendaraan yang berarti “Tawon” dalam bahasa Italia tersebut mampu menembus berbagai negara, lapisan masyarakat, bahkan sampai mengintervensi kedalam budaya sampai menciptakan suatu sub-kultur tertentu. Salah satu contoh pembaurannya menjadi suatu bagian dari sub-kultur bisa dilihat dari stigmanya atas “kendaraannya para kaum Mods” atau sepeda motornya kaum Skinhead, khususnya di Inggris pada era ’60-an.
Pada era itu memang lumayan marak dijumpai para “mereka” yang sering berpenampilan dengan menggunakan jaket ala seorang penerbang, dengan sepatu bot Dr.Martens serta bergaya rambut pendek (malah cenderung botak) sehingga terkesan bergaya militan walaupun belum tentu semua karakteristik mereka seperti itu, apalagi mereka sering berkendara di jalan dengan menggunakan kendaraan yang notabene latar belakang kendaraan tersebut justru tercipta akibat “solusi pembayaran utang” Italia atas kekalahan mereka dalam Perang Dunia kedua.
Lantas apa korelasi antara kendaraan yang teknologinya terinspirasi dari teknologi pesawat terbang tersebut dengan Reggae yang notabene adalah musik yang identik dengan musiknya para kulit hitam pada era itu? Tidak bisa dipungkiri bahwa maraknya para imigran kulit hitam yang berada di Inggris pada masa itu, turut membawa musikalitasnya kedalam pergaulan mereka sehari-hari, khususnya kepada para remaja bahkan sampai ke orang dewasa di negeri asalnya The Beatles, The Who, Sham 69, tersebut. Sedangkan Inggris sendiri (bahkan mungkin sampai sekarang) adalah trend-setter atau salah satu kiblat musik dunia.
Selera musik para imigran kulit hitam tersebut pun ternyata cukup digemari oleh anak muda disana dan bahkan mengakar dengan sangat kuatnya sampai merasuk kedalam lingkungan kaum “Mods” yang notabene sebutan “Mods” tersebut dikarenakan karakteristik mereka yang cenderung “Modernist”, baik itu dalam masalah fashion bahkan sampai dalam segi musik. Sehingga tidak heran jika akibat dari pergaulan mereka dengan para imigran kulit hitam tersebut, banyak dari kaum Mods yang menggemari musik-musik yang sering dibawakan oleh “The Maytals”, “Laurel Aitken”, dan lain sebagainya yang berada di era tersebut, sehingga di era itu pun tidak asing terdengar istilah seperti Rude boys, Skinhead Reggae, bahkan sampai melegendanya pengaruh-pengaruh dari Trojan Records.
Sedangkan diluar segi musik, saat itu Vespa merupakan salah satu kendaraan favorit, karena selain harganya cenderung murah dan teknologi sepeda motor tersebut diadopsi dari teknologi pesawat terbang, sehingga tidak heran jika Vespa cenderung lebih kuat dan tahan lama. Bahkan konon Vespa sewaktu awal-awal dikeluarkan dari pabriknya ke pasar, dulunya Vespa sampai menggunakan ban pesawat terbang betulan. Mungkin karena sebab itu juga kenapa logo yang sering diusung oleh kaum Mods ini pun sampai menggunakan logo yang ada pada pesawat tempur Inggris. Dan media pun turut mempopulerkan keunikan kombinasi antara sub-kultur tersebut dengan kendaraan khas mereka.
Namun Vespa memang bukanlah hanya sekedar kendaraan biasa. Vespa yang dulu dikenal memiliki sejarah sebagai kendaraan simbol “pembayaran dosa” akibat kejamnya Perang Dunia, sehingga tidak heran kendaraan tersebut cenderung dijual dengan harga murah dari negara asalnya, tetapi kini Vespa sudah berganti menjadi simbol kendaraan yang bisa dikatakan sebagai kendaraan yang bermakna “solideritas”. Fakta ini terkadang bisa dilihat dari solideritas persaudaraan para pengendara Vespa khususnya di tanah air, dimana bila ada Vespa yang mogok di jalan, penggendara Vespa lainnya yang kebetulan melintas dan melihat peristiwa itu akan turut berhenti sejenak seraya menawarkan bantuan kepada pengendara tersebut.
Solideritas semacam ini secara sadar atau tidak sadar telah merepresentasikan pesan “One love” dimana perbedaan layaknya perbedaan kulit hitam dan kulit putih pun bisa menjadi lenyap hanya dengan sebuah kendaraan yang disebut dengan musik. Dan semuanya pun terasa semakin kebetulan, karena benang merah diantara musik tersebut dengan kendaraan Vespa itu, ternyata terdapat andil Reggae di dalamnya.

Reggae Tidak Harus Rasta


Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal, reggae dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. “Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life,” ujar Ras Muhamad, pemusik reggae yang 12 tahun menekuni dunia reggae di New York dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik hinggar-bingar dan kegembiraan yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri.
“Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah disebut rastafarian, diidentikkan dengan penghisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan,” ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini. Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok. “Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari,” papar Ras.
Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae adalah penganut rasta, dan sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu reggae. Reggae diidentikkan dengan rasta karena Bob Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia adalah seorang penganut rasta. Ras menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. “Misalnya waktu saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka tidak tahu. Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,” ungkap pemuda yang menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.
Pemusik Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta. Tony mencoba memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu hakikat filosofi, yakni cinta damai. “Yang saya ikuti cuma cinta damai itu,” tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu.
Namun, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari, para penggemar dan pelaku reggae di Indonesia mengaku mendapatkan sesuatu di balik musik yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai dari menyenangi musik reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.
Seperti diakui Hendry Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang mengaku musik reggae semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih berdebat daripada “berdamai”. “Masalahnya bukan pada uang, tetapi praktik seperti itu tidak adil,” tandas Moses yang mengaku sering dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah malam karena dikira mau beli ganja.
Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae, terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan perdamaian, keadilan, dan antikekerasan. “Jadi kami memberontak terhadap ketidakadilan, tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan tersenyum dengan reggae,” ujar Steven mantap.
Sila dan Joni dari Bali menegaskan, seorang rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob Marley. “Rasta sejati itu ada di dalam hati,” tandas Sila sambil mengepalkan tangan kanan untuk menepuk dadanya.

Sumber: Kompas, nusareggae

Tony Q Rastafara


Tony Waluyo Sukmoasih (populer dengan nama Tony Q atau Tony Q Rastafara; lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 April 1961; umur 50 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia beraliran reggae yang telah aktif di ragam tersebut sejak tahun 1989. Dia bersama grup musiknya Rastafara memopulerkan istilah "rambut gimbal" (gaya rambut dreadlock) di Indonesia lewat lagu dengan judul yang sama pada tahun 1996. Tony Q telah menjadi ikon musik reggae Indonesia. Dia dianggap sebagai pelopor reggae di Indonesia, karena dia tak hanya berkecimpung di ragam tersebut sejak lama, namun juga mengembangkan karakter musik reggaenya sendiri, dimana dia memasukkan banyak unsur tradisional Indonesia ke musiknya, dan mengangkat tema-tema khas Indonesia dalam musiknya

Kehidupan pribadi 

Tony Q adalah seorang lulusan STM Perkapalan di Semarang. Sebelum terjun ke dunia musik, pada tahun 1980 Tony Q pernah bekerja selama enam bulan di bagian quality control (pengendalian mutu) di sebuah pabrik pengalengan milik perusahaan Singapura di Cakung, Jakarta Timur. Namun kemudian dia meninggalkan pekerjaan tersebut dan memilih untuk menjadi pengamen di jalanan dan seorang musisi, menghadapi tentangan keras keluarganya. Dia sempat menjadi pengamen selama lima sampai enam tahun di daerah Blok M, Jakarta. 

Karier musik

Menurut wawancara dengan Tony Q di Radio Nederland Wereldomroep, sebelum terjun di musik reggae, dia pernah memainkan blues, rock, bahkan musik country. Tahun 1989 dia akhirnya memilih menekuni musik reggae yang menurutnya tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Tony Q mengaku sangat mengidolakan Bob Marley, almarhum musisi reggae kenamaan asal Jamaika.

Bersama Rastafara

Tony Q memulai karier musik reggaenya sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah tergabung dengan banyak band reggae seperti Exodus dan Rastaman, akhirnya pada tahun 1994 dia membentuk grup musik Rastafara yang menjadi cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu. Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu "Rambut Gimbal" (1996) dan "Gue Falling In Love" (1997).
Hampir semua lagu dalam album tersebut diciptakan Tony Q, dengan lirik lagu yang banyak bertema sosial, kemanusiaan, cinta, dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang populer adalah "Rambut Gimbal", sebuah istilah untuk gaya rambut dreadlock yang kerap digunakan oleh pengikut Gerakan Rastafari, yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia yang menjadi populer karena lagu tersebut.
Rastafara saat itu dinilai berbeda dengan grup musik reggae lainnya karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik dan instrumen tradisional khas Indonesia ke dalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae negara lain seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang Sunda atau Gamelan Jawa ikut menambah warna musik dalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemen musiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik Melayu, musik khas daerah Sumatera Utara, atau Sumatera Barat.
Pada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam musik karena kurangnya pasar musik reggae di Indonesia. Tony Q kemudian melanjutkan kariernya dengan membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band mendapat pemain tambahan. Tetapi kemudian tahun 2000 Tony Q memutuskan untuk memulai karier solo dengan tetap membawa nama grup musik yang telah membuatnya dikenal oleh para penggemarnya, yaitu Tony Q Rastafara.

Karier musik solo

Tahun 2000 Tony Q yang sekarang dikenal dengan nama Tony Q Rastafara berhasil merilis album solonya yang pertama, "Damai Dengan Cinta" tanpa dinaungi perusahaan rekaman. Pada album solo pertamanya ini Tony Q mulai mengalami puncak kariernya dalam musik reggae. Setelah mendengar album pertamanya tersebut, seorang profesor di bidang musik dari Kanada memberikan Tony Q referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika Serikat. Pihak penyelenggara festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di demo tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara yang sama pada tahun 2002. Namun keberangkatan Tony Q beserta rombongannya ke festival tersebut terpaksa batal karena mereka tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait terjadinya "Peristiwa 9/11" di Amerika Serikat yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q.
Tahun 2003 Tony Q Rastafara merilis album solonya yang kedua berjudul "Kronologi". Lagu dalam album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album Tony Q sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Tahun 2005 Tony Q merilis album "Salam Damai". Dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur instrumen tradisional Indonesia. Dalam album tersebut terdapat lagu dengan lirik bahasa Sunda ("Paris Van Java") dan Jawa ("Ngajogjakarta") yang semakin menambah kental unsur tradisional Indonesia dalam musik reggae. 
Pada tahun 2005 lagu "Pat Gulipat" dari album solo pertamanya "Damai Dengan Cinta", masuk ke dalam album kompilasi musik "Reggae Playground" yang dirilis bulan Februari 2006 di bawah perusahaan rekaman Putumayo World Music, sebuah label rekaman yang berbasis di New York, AS.
Tahun 2009 Tony Q merilis album "Presiden" dalam rangka maraknya Pemilu 2009 di Indonesia. Menurut Tony Q, album ini dirilis untuk memberikan wacana ke masyarakat penggemar musik reggae supaya tahu bagaimana menyikapi kondisi politik saat itu. Musik dalam album ini kembali menghadirkan unsur tradisional Indonesia seperti kendang Sunda, gamelan, sitar Jawa, tamburin, bahkan trompet reog.
  • Berdasarkan wawancara dengan Koran Tempo, Tony Q mengaku sebagai teman dekat dari Tukul Arwana, figur televisi Indonesia (sama-sama asal Semarang) yang populer setelah menjadi pembawa acara "Bukan Empat Mata" di saluran TV swasta Trans7. Menurut Tony Q, julukan "Arwana" tersebut adalah pemberiannya pada Tukul.
  • Tony Q juga menjalankan hobi melukis dan lukisannya banyak terjual di sesama komunitas musisi dan teman-temannya di luar negeri.

 

Sumber : Wikipedia


Top