Info Reggae Indonesia: Bob Marley

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

'Marley', Dokumenter tentang Musisi Legendaris Bob Marley

Bagi penggemar musik beraliran reggae sepertinya tidak mungkin tak mengenal musisi legendaris Bob Marley. Semasa hidupnya, Marley merupakan sosok yang cukup berpengaruh, hingga sutradara Kevin Macdonald memutuskan untuk membuat film dokumenter tentangnya.

Dalam film berjudul 'Marley' itu, Kevin akan menyoroti masa muda Marley, puncak karier, hingga kematiannya. Sutradara 'The Last King of Scotland' itu pun berharap karyanya bisa mengobati kerinduan para penggemar sang musisi yang meninggal pada 18 Mei 1981 silam.

Kevin berusaha menampilkan kisah seorang tokoh besar sejarah musik yang lewat lagu-lagunya menjangkau semua kalangan. Musik dan pesan yang disampaikan pelantun 'Redemption Song' itu telah melampaui berbagai budaya, bahasa dan kepercayaan.

Dibuat dengan dukungan dari keluarga Marley, film ini menampilkan rekaman langka, pertunjukan yang luar biasa dan wawancara dengan orang-orang yang mengenal Marley dengan sangat baik.



Marley tayang perdana di Festival Film Berlin 2012 yang kini tengah berlangsung, dan di acara SXSW, Amerika Utara. Film produksi Magnolia Pictures itu akan dirilis pada 20 April mendatang.


Segera di Rilis Film Dokumenter Bob Marley

Film Dokumenter terbaru tentang Bob Marley akan segera keluar di bioskop Amerika Serikat pada 20 April 2012. 
Mengutip berita dari digitalspy, film yang disutradarai oleh Kevid Macdonald dan diproduseri oleh anak dari Bobo Marley, yaitu Ziggy Marley ini bercerita tentang kehidupan dari Bob Marley. Tidak hanya itu, film dokumenter ini berfokus kepada musik yang ditekuni oleh penyanyi sekaligus ikon musik reggae ini.

Magnolia telah memberikan hak kepada Amerika Serikat untuk film dokumenter ini, yang akan melakukan premier untuk dunia di Festival Film Berlin.Tidak hanya itu, Film yang mengangkat cerita dari ikon musik reggae itu akan ditayangkan juga di Amerika Utara pada Maret mendatang di SXSW music dan film festival


Download Wallpaper Terbaru Bob Marley "The Teacher" Exclusive Photo

Wallpaper gratis Bob Marley "The Teacher" silakan download dengan gratis dengan mengklik tulisan Download Here di bawah setiap wallpaper lengkap dengan ukuran wallpapernya
Size: 1024x786
Download Here
Size: 1680x1050
Download Here
Size: 1920x1080
Download Here

Wallpaper ini gratis dan bukan untuk di komersilkan
source : bobmarley official Website

Bob Marley Musisi ke 2 yang paling Disukai di Facebook

Dilansir NME, Rabu (14/12/2011) sang legendaris, Bob Marley yang terkenal dengan musik reggae-nya menduduki peringkat dua. Walaupun sudah lama wafat, namun penggemar Bob Marley masih setia dengan karya-karyanya.
Untuk posisi satu adalah Rihanna, Yang menjadi musisi yang paling disukai di Facebook sepanjang 2011. 
Sementara itu, Avril Lavigne melengkapi peringkat tiga. Ia mampu mengalahkan Lady Gaga yang menduduki peringkat tujuh.

Tidak hanya penyanyi solo yang bercokol di urutan 10 besar tersebut. Band aliran metal, Metallica dan Greenday pun terbukti mampu memikat penggemarnya.
Berikut ini adalah 10 musisi yang paling banyak di 'like' di Facebook dalam tahun 2011:


  1. Rihanna
  2. Bob Marley
  3. Avril Lavigne
  4. David Guetta
  5. Enrique Iglesias
  6. Usher
  7. Lady Gaga
  8. Metallica
  9. Green Day
  10. Black Eyed Peas

Melihat Sisi Lain dari Sang Legenda Reggae,Bob Marley


Selama 1975 dan 1976, wartawan foto terkenal Kim Gottlieb-Walker dan suaminya, Kepala Publisitas di Island Records Jeff Walker, mendokumentasikan apa yang sekarang secara luas diakui sebagai zaman keemasan reggae. Kim mengambil foto ikon para seniman dan produser yang akan selanjutnya ternyata berhasil mendefinisikan sebuah era dan memikat generasi.
Untuk merayakan ulang tahun ke 30 kematian Bob Marley Mei ini, Proud Galeri telah bekerja dengan Kim Gottlieb-Walker membuat sebuah pameran potret jujur ??dan intim, termasuk menampilkan foto yang belum pernah terlihat dan dipublikasikan, dari salah satu momen paling menarik dalam sejarah musik baru-baru ini dengan kehangatan dan keakraban lahir dari rasa hormat antara seniman dan fotografer.
Selama karirnya yang panjang, Kim Gottllieb-Walker telah mendokumentasikan banyak tokoh budaya paling terkenal dan penting dari 5 dekade terakhir, dari Jimi Hendrix , Bob Marley hingga Clint Eastwood, Woody Allen dan John Carpenter.Kim melihat dirinya sebagai " kebalikan dari paparazzi ":
"Daripada 'mengambil' foto, proses adalah salah satu dari memberi.Subjek mempercayakan dirinya kepada saya dan sebagai imbalannya, saya menghormati privasi mereka dan kepekaan mereka dan melakukan yang terbaik untuk menangkap mereka di saat yang paling indah dan bertindak ekspresif dengan mereka-yang saling memberi. Di set, aku melihat diriku sebagai 'malaikat rekaman' yang ada di sana untuk mendokumentasikan apa yang terjadi untuk meberi generasi-sejarawan sisi lain dari seorang seniman-dan menangkap momen berharga untuk dilestarikan. "
Pameran Bob Marley dan The Golden Age of Reggae berlangsung dari 7 April - 15 Mei di Galeri Bangga, London. sementara buku fotografi Kim Gottllieb Bob Marley dan The Golden Age of Reggae juga sudah bisa didapatkan di toko buku. [ndis]

Fotografer Kim Rilis Foto-foto Bob Marley

LONDON, (PRLM).- Puluhan foto-foto langka Bob Marley yang belum pernah dilihat dunia dirilis bertepatan dengan peringatan 30 tahun kematian sang raja musik reggae itu. Foto-foto langka itu terdapat dalam buku yang dirilis fotografer Kim Gottlieb-Walker yang sejak 1970-an mengikuti karir Bob Marley

Bob Marley yang secara luas dikenal sebagai musisi reggae sangat dihargai karena upayanya memperkenalkan musik asli Jamaika itu beserta gerakan Rastafarian ke seluruh penjuru dunia.

Foto-foto karya Kim Gottlieb-Walker ini merupakan foto-foto Bob Marley yang lebih personal bukan citra di atas panggung yang selama ini dunia kenal. Foto-foto itu menampilkan Bob tengah duduk bercengkerama di rumah bersama teman-temannya, menyusuri jalanan kota dengan mobil Cadillacnya atau bersantai sambil mengisap mariyuana.

Musisi bernama lengkap Robert Nesta Marley ini mendunia lewat lagu No Woman No Cry yang sebenarnya berkisah soal kemiskinan di Jamaika.

Sebagai seorang fotografer, Kim berkesempatan melewatkan dua tahun di akhir 1970-an bersama Bob untuk mengambil fotonya dari kejauhan dan mendokumentasikan setiap kegiatannya. Kini Kim membawa foto-foto Bob Marley yang tak pernah dipublikasikan itu ke London, setelah 'harta karun' itu tersimpan di lemarinya selama 30 tahun lebih.

Beberapa foto bahkan sangat fenomenal, seperti Bob Marley yang bertelanjang dada, hanya mengenakan celana jeans dengan wajah sendu atau Bob saat mengendarai Cadillac beratap terbuka menyusuri jalanan dengan rambut gimbalnya berkibaran. Foto lainnya menampilkan sang legenda tengah bersantai di kediamannya sambil membaca surat kabar.

Lalu apa alasan Kin menyimpan harta ini begitu lama dari publik?

"Ini adalah kesempatan pertama saya memiliki waktu untuk memeriksa arsip foto saya. Saya tidak pernah mencetak foto-foto itu. Saya mulai memeriksa lagi dan melihat negatifnya. Ternyata saya tak menyadari sudah menemukan harta karun," kata Kim yang dikutip "BBC".

Bob Marley dilahirkan di Saint Ann, Jamaika 6 Februari 1945. Dia meninggal dunia di Miami Florida pada 11 Mei 1981 dalam usia 36 tahun. Hingga saat ini Bob Marley masih dianggap satu-satunya musisi papan atas dunia yang berasal dari negeri berkembang.

Budaya Reggae dan Kontroversinya


Reggae merupakan musik yang cukup banyak diminati oleh para pencinta musik, walaupun tidak termasuk musik mainstream, namun Reggae tetap tidak akan pernah hilang ataupun musnah. Sampai kapan pun.

Musik Reggae sendiri pertama kali ditemukan di Jamaica pada akhir tahun 1960-an. Jamaica merupakan sebuah negara yang memiliki budaya yang sangat menarik untuk dicermati, dan salah satunya ialah musik. Sebenarnya tidak hanya Reggae saja yang dimiliki oleh jamaica, karena mereka juga memiliki Ska, Rocksteady, dan DUB.

Reggae sendiri memiliki beat yang cukup slow namun tetap dapat membuat pendengarnya bergoyang santai. Perkembangan musik yang satu ini memang sangat pesat. Musik Reggae pun akhirnya mengalami perkembangan menjadi Roots Reggae dan Dancehall Reggae yang terjadi pada akhir tahun 1970. Nama Roots Reggae sendiri diberikan oleh para Rastafarian, yang berarti sebuah musik spiritual yang diperuntukan bagi Jah. Siapakah itu Jah? Jah berarti tuhan bagi para Rastafarian. Burning Spear, Johnny Clarke, Horace Andy, Barrington Levy, dan Linval Thompson merupakan nama-nama produser yang sangat berjasa dalam mengembangkan Roots Reggae ini. Selain memiliki irama yang menarik, lirik dari Reggae pun tidak pernah lepas dari kisah cinta, seks, dan kritikan sosial kepada pemerintahan. Jadi dapat dikatakan bahwa musik Reggae juga merupakan sebuah musik bagi para pemberontak. Terlepas dari Jamaica, musik Reggae orisinal masih dapat kita temukan di Afrika dan Kepulauan Karibia. Di kedua tempat ini Reggae memiliki pengikut dengan jumlah yang sangat besar.

Kebudayaan dua daerah yang masih lekat dengan Jamaica ini membuat Reggae tumbuh cukup pesat. Nampaknya perjuangan Reggae tidak berhenti sampai situ saja, karena secara perlahan namun pasti Reggae mulai memasuki Amerika Serikat. Tentu saja setelah melewati proses yang cukup panjang. Mungkin Anda tahu bahwa Rhythm and Blues merupakan musik kulit hitam yang tinggal di Amerika, namun Rhythm and Blues sendiri merupakan bagian dari musik Reggae yang telah mengalami perkembangan dan beberapa proses di Amerika Serikat. Beberapa pendapat miring atau pun kritikan pedas juga sempat dialami oleh jenis musik yang satu ini, namun Reggae tetap berjalan, seakan tidak ada yang mampu untuk menahannya lagi. Puncaknya ialah ketika pada tahun 1963 musik pemberontak ini akhirnya dapat diputar di tangga radio Inggris pada acara John Peel’s Show.

Reggae And Controversy
Walaupun telah mendunia pada tahun 1960an, Reggae tetap saja menuai kontrovesi yang sangat banyak, para kritikus menganggap musik ini merupakan sebuah musik yang berbahaya, baik dari lirik maupun lifestyle yang ditimbulkan oleh jenis musik ini. Memang jika diperhatikan secara lanjut, lifestyle yang ditimbulkan oleh musik ini sangat dahsyat. Penggunaan cannabis alias ganja oleh para musisi Reggae banyak diikuti oleh para pendengar dari musik ini, karena efek yang ditimbulkan oleh ganja memang sangat cocok dengan irama musik Reggae. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa penggunaan cannabis atau ganja merupakan salah satu ritual yang wajib dilakukan oleh para Rastafarian. Lihatlah cover album Bob Marley yang berjudul “Catch a Fire”, Anda akan menemukan gambar yang sangat vulgar, yaitu gambar sang dewa Reggae sedang menghisap dan sangat menikmati ganja. Cover album tersebut memang sempat menuai kritikan yang sangat pedas, namun nampaknya kebebasan bermusik Reggae masih tidak tertandingi pada saat itu. Seorang musisi Reggae lainnya, Peter Tosh dalam setiap penampilannya selalu memegang ganja di salah satu tangannya dan menghisapnya ketika sedang berada di atas panggung. Salah satu hits dari Peter Tosh yang berjudul “Legalize It” juga sempat dikecam oleh pemerintah karena pada lagu tersebut Peter Tosh meminta kepada pemerintah untuk melegalkan ganja.

Kontrovesi Reggae tidak berhenti hingga disitu saja, salah satu bagian dari Reggae, yaitu Dancehall juga dianggap sangat bermasalah. Dancehall sendiri merupakan sebuah musik yang diperuntukan untuk mengkritik para kaum gay. Para Rastafarian yang sangat membenci komunitas yang satu ini mulai melakukan kritikan-kritikan tajamnya melalu Dancehall, bahkan tidak sedikit berbagai kejadian yang sedikit radikal terjadi akibat dari pengaruh dari Dancehall..

Jamaican Style
Musik Reggae memang sangat lekat hubungnnya dengan Jamaica. Mungkin itu semua terjadi karena Jamaica merupakan daerah asal dari musik ini. Kerena sangat erat hubungannya tersebut, maka banyak budaya Jamaica yang diadaptasi oleh para pencinta musik yang satu ini. Cocok atau tidak cocok bagi pengadaptasinya bukan merupakan sebuah masalah, yang penting ciri khas Jamaica dan Reggae telah melekat pada keseharian para pengikut Reggae.

Rambut gimbal merupakan salah satu pengaruh dari budaya Reggae dan Jamaica yang paling mudah kita temukan. Mungkin bagi sebagian orang akan merasa jijik atau pun gerah melihat orang dengan rambut gimbal tersebut. Namun bagi para Rastafarian, hal ini lah yang mereka lakukan untuk mengungkapkan bahwa dirinya adalah salah satu pencinta dari musik Reggae.

Seiring dengan perkembangan zaman, rambut gimbal pun mulai mendapatkan tempat di dunia. Banyak orang awam yang tidak begitu mengerti tentang Rastafarian ataupun musik Reggae mengadopsi gaya ini pada kesehariannya. Selain rambut gimbal, warna hijau, kuning dan merah pun cukup melambangkan warna khas dari musik Reggae.

Bob Marley
Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada tanggal 6 Februari 1945, di sebuah desa di Saint Anna, Jamaica, Bob Marley merupakan seorang legenda Reggae yang tidak akan ada habisanya untuk dibicarakan. Ia merupakan salah satu musisi yang sangat mendunia. Selain berprofesi sebagai penyanyi, Bob Marley juga sangat piawai dalam memainkan gitar dan menjadi seorang penulis lagu yang sangat handal.

Pada tahun 1963 Bob Marley bersama Bunny Livingston, Peter McIntosh, Junior Braithwaite, Beverly Kelso dan Cherry Smith membuat sebuah band yang bernama The Teenagers. Nama The Teenagers sendiri tidak bertahan lama dan kemudian berubah menjadi The Wailing Rudeboys yang kemudian disempurnakan menjadi The Wailers Perjalanan karier Marley sendiri berjalan seperti musisi pada umumnya. Well, memang tidak mudah untuk menjadi seorang musisi handal. Namun perjuangan Marley tersebut akhirnya mulai menghasilkan sesuatu. Beberapa hitsnya seperti “No Woman No Cry”, “Get Up Stand Up”, dan “I Shot the Sheriff” cukup melegenda di dunia.
Sayang Marley tidak lama merasakan kejayaannya tersebut. Pada bulan Juli 1977 Marley divonis menderita penyakit kanker, dan penyakit tersebut pun mulai menjalar ke beberapa bagian vital tubuhnya seperti otak dan hati yang membuatnya harus banyak beristirahat. Pada tanggal 11 Mei 1981 sang legenda Reggae ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan tiga belas anak. Walaupun telah meninggal, nama Bob Marley seakan tidak pernah lenyap dari dunia musik, khususnya musik Reggae. Bahkan musik Reggae pun semakin diterima dunia. Mungkin ini lah salah satu cara yang harus dilakukan oleh sang dewa Reggae untuk tetap menghidupkan musik Reggae.


Sumber : indramunawar.blogspot.com

Ayah dari Legenda Bob Marley

Kapten Norval Sinclair Marley adalah seseorang yang berperawakan kecil. Ia adalah seorang pengawas tanah perusahaan Crown Lands, milik Pemerintahan Inggris yang telah menjajah Jamaika sejak tahun 1660-an yang terletak sebelah utara pulau itu. Pangkat yang disandangnya ia dapat saat menjadi komandan markas di Resimen British Hindia Barat. Suatu saat ia bertemu dengan Cendella, seorang wanita pribumi yang telah mamikat hatinya pada saat dia sedang berkunjung ke distrik Nine Miles. Hubungan mereka menjadi pergunjingan warga setempat karena Ras.


Pada Mei 1944 cedella mengejutkan keluarganya karena hamil. Sehingga pada hari jumat dilaksanakanlah pernikahan antara Norval dengan Cendella dan sehari setelah pernikahan mereka, Cendella diungsikan ke Kingston agar tidak tercorek namanya sebagai ahli waris keluarganya.

Dan akhirnya Cendella melahirkan seorang anak yang diberi nama Robert Nesta Marley yang lahir pada pukul 2.30, Rabu Februari 1945 dengan bobot enam setengan pon (3.25 kg) di Nine Miles. Konon pada malam kelahirannya, banyak orang melihat beberapa meteor jatuh, yang menurut keyakinannya akan lahir seorang tokoh besar.

Pada tahun 1950 Cendella pindah ke Trench Town – Kingston. Marley mulay berinteraksi dengan geng-geng jalanan yang kemudian berlanjut menjadi gerombolan bernama “The Rudeboys. Walaupun berperawakan kecil seperti ayahnya, tapi karena kekuatannya ia dijuluki “Tuff Gong”.

Setelah Marley drop out dari sekolahnya ia mulai tertarik dengan musik. Pada awal 1962 Bob Marley, Bunny Livingstone, Peter Mcintosh, Junior Braithwaite, Beverley Kelso dan Cherry Smith membentuk grup ska & rocksteady dengan nama “The Teenager” yang nantinya berubah menjadi The Wailing Rudeboys dan berganti lagi menjadi The Wailing Wailer dan akhirnya menjadi The Wailers.

Pada tahun 1977, Bob Marley divonis terkena kanker kulit, namun disembunyikan dari publik. Bob Marley kembali ke Jamaica tahun 1978, dan mengeluarkan SURVIVAL pada tahun 1979 diikuti oleh kesuksesan tur keliling Eropa.

Bob Marley melakukan 2 pertunjukan di Madison Square Garden dalam rangka merengkuh warga kulit hitam di Amerika Serikat. Namun pada tanggal 21 September 1980, Bob Marley pingsan saat jogging di NYC’s Central Park. Kankernya telah menyebar sampai otak, paru-paru dan lambung. Penyanyi reggae inipun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Miami Hospital pada 11 Mei 1981 di usia 36 tahun, dengan meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.

Terlihat jelas melalui sinar matahari jamaika kamu dapat memilih bagian dari dongeng tentang Marley antara lain : tentang kesedihan, cinta, pemahaman, dan Godgiven talent.

Dua dekade setelah dia meninggal, Imensitas (kebesaran) Bob Marley menempatkannya menjadi satu diantara figur-figur transenden terbesar sepanjang abad. Riak-riak yang dilakukannya menyebrang dari sungai musiknya kedalam samudera politik, etika, gaya filsfat, dan agama (Rastafaria). Bob Marley dimasukkan ke dalam Rock n Roll Hall of Fame pada tahun 1994. Majalah time memilih lagu Bob Marley & The Wailers Exodus sebagai album terbersar pada abad ke-20. pada tahun 2001 ia memenangkan Grammy Lifetime Achivement Award.

Pada tahun yang sama kemudian film documenter tentang hidupnya dibuat oleh Jeremy Marre, Rebel Music, dinominasikan untuk The Best Long Form Music Video documentary at the Grammies, serta penghargaan untuk beberapa kategori lainnya. Dengan kontribusi dari Rita, The Wailers, dan para pecintanya serta anaknya, film tersebut menceritakan tentang Marley, yang juga disertai kata-kata Marley sendiri. Pada musim panas tahun 2006, Kota New York memberikan penghargaan tersendiri bagi Bob Marley dengan memberi nama pada jalam gereja dari jalan Ramsen ke East 98th street dibagian timur Brookliyn dengan memberi nama “Marley Boulevard”. Dan masih banyak lagi penghargaan yang Bob Marley dapatkan.

Kisah hidup Bob Marley adalah sebuah arketipe, itulah kenapa karya-karyanya abadi dan terus bergema. Bob Marley berbicara tentang represi politik, wawasan metafisik dan artistic, kesejahteraan dan apa saja yang mengusiknya. “No Women No Cry” masih akan terus mengahapus air mata dari wajah seorang janda “Exodus” masih akan memunculkan ksatria, “Redemtion Song” masih akan menjadi tangisan emansipasi untuk melawan segala tirrani, “Waiting in Vaint” akan tetap menggairahkan, dan “One Love” akan terus menjadi himne internasional bagi kesatuan kemanusiaan didunia melampui batas-batas, melampui kepercayaan-kepercayaan, di mana tiap orang akan sadar dan mempelajarinya.

Bob Marley bukan hanya sekedar bintang musik yang sebagian besar rekamannya memecahkan rekor internasional, namun ia juga menjadi sebuah figure moral dan religius. Selain Bob Marley kita juga harus mengakui bahwa banyak musisi yang lebih unggul dari penemuan instrumental, gaya vocal gubahan musik, dan sebagainya.tetapi hanya Bob Marley yang dapat membuat kita melihat ribuan orang Hpi dari Mexico, Maori dari Selandia Baru bahkan komunitas-nya di Indonesia (Jogjakarta dan Bali), berkumpul tiap tahun untuk menghormatinya.

Banyak penggemarnya di seluruh dunia meniru gaya rambut dreadlocknya karena fanatic walaupun tidak sedikit pula yang meniru dreadlock Bob Marley karena terkena imbas voyeurisme, padahal sebenarnya dreadlock Bob Marley sebagai bagian dari keyakinannya akan ajran Rastafarian, dan bukan dari pengkulturan dari selebriti idolanya. Pada umumnya di Indonesia, sosok Bob Marley banyak diidentikkan dengan ganja, padahal ganja adalah ritual serta bagian dari ajaran Rastafarian dan Bob Marly adalah penganutnya. Wajar bila ia mengkonsumsi, menjadikan syair, dan menyanyikannya.

Pameran Mengenang 30 Tahun Wafatnya Bob Marley Digelar


Memperingati 30 tahun kepergian Bob Marley yang jatuh pada tanggal 11 Mei lalu, pihak keluarga dan Grammy Museum menyelenggarakan pameran berjudul Bob Marley: Messenger sejak hari Rabu (11/5) lalu.

Pameran ini menampilkan memorabilia milik Bob Marley termasuk gitar Gibson yang ia gunakan sejak tahun 1970 dan sempat muncul bersama dirinya di sampul majalah Rolling Stone edisi tahun 1976.

Gitar Gibson ini akhirnya keluar dari Jamaika sejak kematian Bob Marley di tahun 1981, dibawa sendiri oleh sang anak Ziggy Marley ke Grammy Museum, Los Angeles, AS.

Kepada Reuters Ziggy mengatakan, “Itu adalah senjatanya, benda terdekat yang ia bawa diatas pangung maupun diluar panggung. Terbuat dari kayu, sangat alami. Mungkin keringat Bob, atau apapun, melekat di gitar tersebut.”

Pameran Bob Marley : Messenger juga akan menampilkan memorabilia lainnya seperti jaket denim yang sering digunakan Marley diatas panggung, poster-poster konser, foto-foto candid, album-album Marley, dan ada juga drum elektrik yang bisa dimainkan untuk para pengunjung bersama lagu-lagu Bob Marley.

Sumber : rollingstone.co.id

Top