Info Reggae Indonesia: Cozy Republik

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Cozy Republic Kedepankan Idelogi

Berkiprah di industri musik, tak sedikit musisi ataupun grup band rela menghilangkan idealismenya. Sebagian besar dari mereka lebih memilih jualan ketimbang menjalankan apa yang menjadi visi dan misi sebelumnya.
Namun, hal tersebut tak berlaku bagi punggawa musik reggae tanah air, Cozy Republic. Bagi band ini, sebuah idealisme mutlak dimiliki oleh seorang seniman, tapi bukan idealisme kosong tanpa tujuan.
"Karena ideologi yang membentuk industri. Setiap seniman pasti idealis yah, tapi tak semua dari kita punya ideologi. Bisa dihitung dengan jari, seniman atau pemimpin di dunia yang punya ideologi. Dan buat kami, kenyamanan atau kebahagiaan adalah ideologi, dengan banyak jalan menuju kebahagiaan. Siapa manusia yang gak ingin bahagia," tutur Cozy Republic saat ditemui di FX Plaza Senayan, Jakarta Pusat (10/12).
Cozy Republik pun selalu menyampaikan kepada para penggemarnya tentang ideologi 'kebahagiaan' milik mereka. "Ya dengan selalu membangkitkan spirit. Salah satunya adalah dengan lagu, seperti Republik Uye. Kami di situ menyampaikan kalau Indonesia adalah negeri yang kaya, bisa memberi apa aja yang dibutuhkan," lanjut mereka.
Band ini juga menambahkan, sudah saatnya kita kembali ke budaya lokal dan mengolah segala kekayaan yang ada di dalam Nusantara. "Kenapa kita harus meniru budaya luar, di saat mereka, orang luar negeri itu malah mencari kedamaian di negeri ini. Mereka malah pengen tinggal di sini senyaman-nyamannya tinggal di negeri orang pasti pengen balik, akan ada rasa rindu kembali ke negeri asal. Jadi jangan terbuai dengan mimpi Amerika," tukasnya. (kpl/ato/mae)
Source : omg.yahoo.com

Cozy Republic Suguhkan Multi Genre di Album Baru

Menjadi pengusung setia musik reggae, ternyata tak membuat Cozy Republic berhenti mencari terobosan baru. Di album teranyar yang akan segera dirilis, grup pemilik tembang Republik Uye ini akan memasukkan berbagai genre musik, tak terkecuali dangdut.
“Musik lebih beda. Bisa dibilang mengalami metamorfosis. Nambah warna baru aja. Kami lebih luas bisa maen di segala kalangan musik, di samping reggae, juga jazz, rock, dan dangdut. Namun benang merah tetep musik reggae Cozy Republic,” ujar Cozy Bastian saat ditemui di Festival Dji Sam Soe, Lapangan Pertanian Pasar Minggu, Jakarta Selatan (1/10).
Lebih lanjut, vokalis ganteng ini menambahkan, meskipun mereka bermain di genre reggae, namun Cozy Republic tidak bisa memagari dengan satu bentuk musikalitas.
“Masyarakat kita kan luas. Gak mau jadi kayak bermain di satu komunitas aja,” tegasnya.
Bertajuk CINTA 17-AN, album yang berisi 10 lagu termasuk 3 lagu repackaged ini, Cozy Republic tetap mengajarkan cinta.
“Meaningnya banyak ya, intinya cinta itu pasti punya 1 tujuan. Yaitu cinta yang mengajak persatuan, kebaikan, dan perdamaian. Cinta sejati itu cuma ada satu,” lanjutnya.
“Materi udah selesai semua. Tinggal keluar aja sih. Semoga bulan depan bisa rilis,” pungkas Cozy yang mengaku siap dengan kritik orang akan sentuhan multi genre di album terbaru

Cozy Republic Ingin Reggae Setara dengan Genre Lain

JAKARTA - Perlahan tapi pasti, musik reggae mulai bisa diterima di industri musik Indonesia. Keyakinan ini membuat band Cozy Republic bangkit dari perjalanan bermusiknya yang sempat tertatih-tatih.

Band asal Jakarta yang berdiri sejak tahun 2006 ini tetap setia membawakan musik reggae di tengah gempuran musik pop melayu di industri musik tanah air.

"Kalau kita mengikuti permintaan industri sekarang, permintaannya itu lebih ke musik yang pop melayu gitu. Tapi kita yakin masih ada bentuk lain kalau mau cari sisi komersil," ujar vokalis band ini, Bastian, saat ditemui di studionya di Kalibata II, Jakarta, belum lama ini.

Perjalanan band yang beranggotakan Bastian (vokal), Penyot (gitar), Uvi (Drums), Rival (Bass), Indha (Keyboard) ini tidak mudah. Mereka memutuskan keluar dari label dan merombak formasi.

"Ada hal yang rasanya tidak nyambung dengan label. Kita merasa bisa melakukannya sendiri. Makanya kita memilih untuk keluar dari label dan juga mengganti personel. Justru kita merasa lebih powerfull saat ini," paparnya.

Saat ini mereka sedang mempersiapkan album kedua. Di album ini, mereka sengaja merekam ulang lagu dari album pertama mereka berjudul Republik Uye yang dirilis tahun 2008.

"Kita memang senang sama musik reggae. Reggae itu musik yang penuh optimisme. Jadi kita yakin bahwa musik reggae kelak akan sama populernya dengan genre lain seperti  pop, rock atau dangdut," pungkasnya.

Cozy Republic Makin Mantap Sebarkan Virus Reggae


JAKARTA - Banyak cara dilakukan Cozy Republic agar musik reggae bisa diterima masyarakat luas. Salah satunya, memanfaatkan teknologi ponsel sebagai bentuk promo.

Band reggae asal Jakarta ini memasukan hits single Kalau Jodoh Tak Lari Kemana dari yang ada di album kedua mereka ke dalam ponsel bergaya reggae.

"Kita memang digandeng sama salah satu perusahaan handphone untuk produk mereka yang bergaya reggae. Nanti yang membeli handphone tersebut akan mendapatkan ringtone lagu terbaru kami," ujar Indha, pemain keyboard, saat ditemui di studionya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (22/7/2010).

Tawaran menarik ini tentu disambut gembira band yang pernah diproduseri Ivanka 'Slank' ini. Band yang digawangi Cozy Bastian (vokal), Penyot (gitar), Uv (drum), Rival (bass) dan Indha (keyboard) inipun makin mantap memilih jalur musik reggae.

"Ini menjadi sebuah tantangan yang sangat tidak mudah untuk dilalui. Kita semakin mantap menebarkan racun reggae kita," kata Bastian.

Band yang segera merampungkan album kedua ini memang tak mau dinilai main-main mempopulerkan musik reggae. Sejumlah rangkaian tur hingga ke 50 kota di Indonesia siap dilakukan band yang berdiri sejak 2006 ini.

"Setelah handphone keluar, kita akan tur di kota seperti Pulau Jawa sampai Sulawesi. Pokoknya siap-siap saja dengan virus reggae dari kita nanti," janjinya.

Cozy Republic: Reggae Tak Harus Gimbal

Membawa musik reggae naik kelas, itu misi band Cozy Republic selama ini. Cozy Bastian (vokal), Penyot (gitar), Indha (keyboard), dan Luthfi (drum), para personel grup tersebut, ingin reggae tak lagi dianggap musik kumuh."Musik kami sangat fleksibel, dari kalangan atas sampai ke bawah. Jadi, reggae tidak identik dengan musik yang kumuh," kata Bastian ketika berkunjung ke Kompas.com, di Jakarta, belum lama ini.

Dengan misi itu, fashion yang mereka kenakan lantas menjadi salah satu hal penting bagi Cozy Republic. "Kalau pakaian kami bersih, pasti penilaiannya juga asyik. Bisa masuk di kaum jetset, bukan lagi dinilai musik kumuh," kata Bastian lagi. "Jadi, siapa bilang sekarang reggae selalu kumuh," lanjutnya.
"Di video clip (lagu) 'Bidadari', kami didandani. Padahal, kami enggak biasa didandani, jadi bingung," kenang Penyot. "Karena bingung, kami enggak pakai model yang gimana-gimana, mengalir saja, kami 'mainin' kostum," lanjutnya. "Dan, reggae enggak harus gimbal. Yang penting, hatinya," timpal Bastian, meskipun Indha berambut gimbal.

Sumber : entertainment.kompas.com/

Cozy Republic Incar Internasional lewat Spanyol

Dua tahun sudah band reggae Cozy Republic sibuk menyiapkan materi album kedua mereka, Cinta 17-an, setelah Republic Uye sebagai album komersial perdana mereka dirilis dan dikenal. Cozy Republic, yang oleh digawangi Cozy Bastian (vokal), Reynold alias Penyot (gitar), Indha (keyboard), dan Luthfi (drum), menjamin bahwa racikan musik mereka selama dua tahun tersebut banyak mengalami kemajuan.
"Musiknya lebih bersahja, cita rasanya masih bertahan, tapi kami lebih menjual atmosfer. Jadi, warna musiknya lebih progres ke jazz, funk, tapi balutannya masih reggae," terang Bastian ketika berkunjung ke Kompas.com, Jakarta, baru-baru ini bersama Penyot, Indha, dan Luthfi.
Di satu sisi, musik Cozy Republic dinilai oleh para personelnya kian dewasa. Di sisi lain, Bastian cs tetap memertahankan konsep lirik lagu-lagu mereka. "Konsepnya enggak berubah, tetap mengajak orang berbahagia. Liriknya bercerita, tidak radikal, soalnya kalau bercerita tentang negeri ini biasanya begitu (radikal). tapi kami mengajak dengan cara lebih moderat, jadi lebih ke good news," jelas Bastian.
Dalam konsep Cozy Republic, judul album Cinta 17-an, yang akan dirilis dalam tahun ini, dibaca sebagai "cinta satu tujuan". "Pahamnya, Cinta 17-an itu cinta satu tujuan. Ya, bisa saja, 17-an diartikan sebagai sweet seventeen atau negara kita ulang tahun setiap 17 Agustus, tapi kali ini lebih ke cinta satu tujuan. Jadi, kami mau bercerita tentang nasionalisme dengan cara Cozy Republic, yang moderat dan tidak radikal, tidak mengobarkan semangat pertempuran," lanjut Bastian.
Aneka tema lirik dicemplungkan oleh Cozy Republic ke dalam album Cinta 17-an. "Sentilan-sentilan itu banyak sekali. Kami lebih banyak bercerita tentang alam, kultur, dan cinta seorang pria terhadap wanita dengan sebaik-baiknya," jelas Bastian lagi.
Sementara itu, Cozy Republic juga memasang target go international dengan single jagoan "Negri Hujan". Liriknya mereka bikin dua versi--dalam bahasa Indonesia dan bahasa Spanyol. "Untuk 'Negri Hujan' kami buat dua versi, (dalam bahasa Indonesia) juga dalam bahasa Spanyol. Kenapa bahasa Spanyol? Ini karena bahasa Spanyol eksotik. Jadi, kami bisa ke Barcelona," kata Bastian lalu tertawa.
Sumber : www.radiobnr.net

Cozy Republic: Reggae Bukan Musik Kumuh dan Pinggiran

Menjadi salah satu band Indonesia yang berbasis reggae, Cozy Republic sangat mendukung acara Indonesia Reggae Festival yang akan berlangsung pada 21 mei 2011 nanti di PRJ. Bagi Cozy, ini salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat di Indonesia bahwa reggae itu bukan musik pinggiran dan kumuh.
"Nggak sih sebenarnya, kita pelan-pelan mengedukasi penikmat Indonesia. Jangan dikira musik reggae kumuh dan pinggiran, musik reggae bisa jadi jetset, bisa adaptasi di mana saja. Cozy mencoba untuk pelan-pelan mengedukasi tanpa mengurangi cita rasa," ujar Cozy mengisi acara roadshow Indonesia Reggae Festival di Backstage Ancol, Jakarta Utara(27/4).
Masih menanggapi soal festival reggae, bagi Cozy komunitas reggae di Indonesia sudah ada sejak tahun 80an namun baru sekarang komunitasnya bisa di bilang kuat.
"Sebenarnya sudah ada tapi kita nggak terlalu kuat seperti sekarang komunitasnya. Ini musik revolusi Indonesia," ucap Cozy yang di tambahkan oleh Lutfi.
"Kita berharap reggae nggak di lihat sebelah mata, Reggae enak kok musiknya, akan lebih dahsyat lagi dari genre yang lain, tapi karena ada fanatisme reggae bisa bertahan," katanya. 
Sumber : inilah.com

Cozy Republik Nyaman Tembak Pasar Komunitas


Band beraliran reggae Cozy republik merilis ulang album mereka, 'Republik Uye' (2006). Cozy Republik mengaku nyaman meski henya menembak pasar komunitas.

'Kita band yang lebih ke komunitas. Tapi kita nggak menggarisbawahi orang-orang di luar itu," ujar Bastian, vokalis Cozy Republik, ketika berbincang dengan detikhot baru-baru ini.

Cozy Republik mendekati komunitas tertentu untuk mencoba strategi pemasaran baru. Namun bukan berarti mereka tidak menjangkau penikmat musik di luar komunitas tertentu.

Untuk album recycle, mereka menjagokan lagu 'Republik Uye'. Kini band yang digawangi Bastian (vokal0, P'nyot (gitar), Uvi (drum), Rival (bass) dan Indha (kibord) itu telah hengkang dari label Greenlabs.

"Reggaenya nggak terlalu grassroot, beatnya tapi tetap, dengan lirik sederhana yang Indonesia banget, sebelumnya kan di album pertama berjudul 'Republik Uye' itu lebih grassroot," jelas Bastian.

Sumber : detik.com

Top